Jumat, 16 Desember 2011

mr.caveman

hujan turun dengan derasnya,kemarin.
tetes yang jatuh membentuk satu irama,satu isyarat yang tak mampu di terima indera secara nyata.
hanya tanda-tanda sederhana, hanya sebatas aksara yang terbata, mengurai makna.

dan aku menjadi bagianya.

menjadi rangkaian aksara yang terbata,
menjadi rentetan kata yang tanpa makna.

aku berdiri mematung,membiarkan setiap iramanya menyatu 
dengan denyut yang kian melemah,kian jauh dari detaknya.

untuk ke dua kalinya aku mengalami kekalahan sebagai mauusia,
tragis.
hanya orang bodoh yang tidak mampu menjelaskan keinginanya,
mempertahankan kemauanya,menunjukan hatinya, menerangkan cintanya.
dan mungkin aku salah satunya.
yaaa,aku memang salah satunya.

baru saja,
benar benar baru sejenak,aku merasa menjadi aku,
dihargai utuh sebagai individu,
tanpa perlu berubah penurut,tanpa perlu berubah manis,
cukup aku.
cukup aku dan dia selalu akan tersenyum menyambut kedatanganku,
dengan hanya cukup menjadi aku.

pernah kamu merasa sangat ingin melempar keluar baterai jam dinding hanya demi membiarkan waktu terdiam sejenak?
pernah kamu merasa hanya ingin diam,melingkarkan lenganmu di tubuh seseorang, lantas memeluknya kuat,meletakanya dekat dengan detak?
pernah kamu merasa hanya ingin berjam-jam bersadar di bahu seseorang,imenciumi pundaknya,memenuhi rongga dadamu dengan aromanya?
pernah kamu merasa ingin menghirup asap rokok sebanyak yang kamu mampu,sebanyak yang kamu bisa lalu mebiarkan ada sebilah noda membekas di antara pulmo mu?
pernah kamu merasa begitu jatuh cinta?begitu nyaman?

aku pernah,
AKU PERNAH!
AKUUU PERNAAAAAH!!!!

aku jatuh cinta.
dan di saat yang nyaris sama.
aku kehilangan.

jatuh cinta pada pandangan pertama,kedua,ketiga 
dan seterusnya sampai mati.
dan di saat yang sama,
aku patah hati pada pandangan pertama,kedua,ketiga,
dan mudah mudahan tidak perlu sampai mati

[malang,16 desember 2011][singgih prima ananda] 

Sabtu, 26 November 2011

devi(L) speaking

take time for a while,take a deep breath. and feeling so free for several time.


I miss this loneliness,ha!


(ini sekedar omong kosong di akhir pekan,so don't be so seriouss)

ada satu pepatah yang bilang each day is a gift and not a GIVEN RIGHT,

(ini percakapan devi dan devil,,)

hidupmu hanya hadiah, jadi meskipun Tuhan berbaik hati,kamu tetep punya utang. Utang budi!, musti ngikutin mauNya dan ngejauhin apa yang di kata jangan ama Dia.sementara aku??(devil speaking noooow),aku minta hak untuk bisa hidup selama-lamanya dan Tuhan kasih. it's not a gift you know??, it's a kind of RIGHTS!!jadi aku gak perlu bayar apapun. itu negosiasi kami,aku gak ada utang budi dong sama Dia. kalaupun aku terus-terusan berada di sisi gelap, it's no matter kan, toh it's my job. sesuai job desk yg Dia bikin, dan Dia kasih ini.
pertanyaanya, kalau kamu yang begitu, I mean, kamu yang berpolah kayak aku, kayak setan begini. bukanya itu berati sia-sia abis Dia kasih hadiah Maha Keren buat kamu????. (hidup)
kedua nih ya, kalau pun aku jahat terus. aku gak perlu kuatir. kenapa gitu. karena aku abadi. dan segalanya udah pasti banget buat aku. sementara kamu, yang umur aja masih jadi teka-teki.
kenapa gak buru-buru bayar utang mu cobak??kasian banget gak sih Dia, udah repot-repot kasih hadiah hidup buat manusia,eh malah di sia-sia kan lo ya,,,

it kind a stupid thing, i think!

Kamis, 17 November 2011

no idea,-.-


Entah hijau,entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwarna hijau,jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis.  Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat itu yang masih buka. Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandinga spak bola dini hari dari televise 14 inci dan kumandang lagu disko era satu decade silam serta kelap-kelip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.

Tinggal empat manusia yang tersisa. Dan dia satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan mahluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan.sementara aku tetap menyandang status “kenalan”,mereka sudah menjadi tiga serangkai-sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku tidak merasa rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukan pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.

Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak tahan lagi. Cuma aku yang tidak tergaggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.

Satu diantara mereka sampai berteriak kegirangan begitu sakelar lampu di padamkan. Yang tersisa tinggalah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantic. Aku tidak suka.

Tanpa sengaja dia menoleh kearahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Akupun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi disekatkan ke meja mereka. Dan dia mempersilahkan aku duduk. Dia, yang paling aku cari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.

Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk di situ,akan ku selundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikiranya,memata matai perasaanya. Cukup seperempat jiwaku yang berjaga di meja itu untuk tersenyum sopan,tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘ooooh’ atas percakapan apapun.

“kami sedang melakuka satu permainan”, dia menjelaskan. “bertukar pengalaman yang paling sedih”. Temanya menambahkan,”yang terpilih jadi juara akan mendapatkan ,,,ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh di geser ke pusat meja.

Cepat ku jelaskan bahwa ka tidak minum bir, sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapapun untuk melakukan apapun. Tidak boleh tidak. Ide itu disambut baik. Bkan ide bir sebagai hadia utama dilengserkan.

Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman,dan kisah bencana alam. Tiba giliranya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau,lalu cahaya besar. Namun pada saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring kma tetntu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahya entah apa, yang Cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern,menjadi manusia yang mengatasi cinta insane dan berjuang untuk menghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu. Tanpa menunggu harus koma atau ko’it.

Ketiga temanya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.

“giliran kamu” suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh kearahku,matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.

Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, kau teringat trotoar tempat kamu berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan. Aku teringat sluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini. Kau teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu denganya. Aku teringat kemana harus kembali setelah malam ini dan kemana ia pergi nanti.

Aku mulai berkisah, tentang sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibuya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang ibunya mampu beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu ada paha,dada atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.
Mereka semua senyap. Lurus memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebnayak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku menghela napas. Kisah ini terasa semakin membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang Cuma sanggup kuhayati bayanganya dan tak akan pernah kumiliki keutuhanya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit,awan dan hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain, ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki, saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidaklagi jadi piala dan mendadak terlihat sangat menarik.

Mereka semua berpadangan. Mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alcohol, bir ini menjadi lebih dashyat dari semua kisah sedih tadi.

Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku.kisahku dinobatkan menjadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang ku mau. Siapa dan melakukan apa.mereka begitu semangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkirim surat elektronik. Namun bukan itu saj ayang kucari. Aku hanya ingin kembali ketempatku. Di belakang sana.menikmati apa yang aku sanggup. Bukan di meja ini, buka di sebelahnya. Bukan bersentuhan dengan kakinya.

Malam itu sebagai hadiah kisah sedihku tenta cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang. Aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar menyalakan sakelar lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisis pergi ke tempat duduk ku semula. Supaya sekembalinya ia nanti,aku sudah kembali menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara.

Tempat ini kembali menjadi remang yang tidak romantic. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara,langit,sinar bulan atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.

Malang,2 november 2011.

Rabu, 16 November 2011

galau (ers)

aku biasa duduk berjam-jam di depan layar 14'' ini dan menumpahan semua apa yang kurasakan.
dan hari ini, aku cuma mampu duduk mematung berjam-jam. karena semua kata-kata yang biasanya meluncur manis itu mendadak terdistorsi aliran memori lain. tentang kamu.
ah, aku menepis beberapa bulir air yang hendak meluncur dari pelupuk mataku. aku bosan berkutat dengan kamu dan kamu lagi setiap harinya. tidak bisakah kita selesaikan saja semua rasa yang terlanjur menjalar.
ha!
retoris.aku memijat tengkuk ku sendiri gemas.
bagaimana mungkin aku yang akan mengakhiri ini semua?, sementara aku lah yang paling ingin berada disini, satu menit,dua menit, lima menit lebih lama,sehari,sebulan,setahun lebih lama.
bukan kamu yang menahan langkahku, tapi keberadaanmu dalam alam bawah sadarku yang menggerakan hati ini untuk tidak bergerak sama sekali. aku sedang merajuk pada nurani, pada hati kecilku sendiri. memohon sebuah pengampunan, karena aku tak kuasa untuk berada di sini lebih lama. aku lelah,
kehabisan nafas, terengah mengejar langkahmu.ingin kamu,tapi hanya mampu menangkap bayanganmu.
kamu.
kamu.
kamu.
aku kehabisan kata untuk melukiskan kamu,
bagaiamana kamu,kehadiranmu, dan ketidak pedulianmu,menjungkir balikan dunia.
aku dan duniaku.

aku bukan supergirl yang mampu memfilter segala rasa sakit, menelanya sebagai sebuah anugrah,bentuk ujian, seperti apa yang tertulis di al Qur'an,al kitab atau apapun itu. aku bukan.
aku masih akan mengerang kesakitan ketika perhatian itu di cabut begitu saja dari aku, aku akan meronta kehilangan ketika kehangatan itu di rengkuh begitu saja dari aku. aku akan menangis, mengais-ais mencari kenyamanan yang di minta kembali tanpa pemberitahuan dari aku.

aku cuma seorang perempuan biasa. yang merindukan kamu setiap kali akan menutup mata.
aku cuma perempuan biasa yang akan menyebut namamu layaknya mantra,ketika menunggu sepenggal kabar dari kamu.
aku cuma perempuan biasa.
dan aku butuh kamu.

Jumat, 04 November 2011

untittled

lagu yang satu ini,.
hhh,sudah ganti masa,ganti periode,
lelaki yang singgah,mampir,sudah bolak balik mengalami reshufel. tapi lagu ini masih selalu mengena sekali.
entah karena sebagian dari aku,adalah pribadi yang menye-menye.atau kah mungkin ini apa yang terkandung dalam lagu ini adalah sebuah pertanyaan retorikal yang secara ajaib akan muncul dalam setiap hati manusia ketika mereka menjalani pasang surut suatu hubungan?.

"adakah ku singgah di hatimu?".
 ini adalah satu dari sekian banyak pertanyaan tentang asmara, yang sama sekali tidak berjodoh dengan jawaban.

aku sama sekali bodoh soal cinta. masih sama bodohnya seperti ketika pertama kali aku mengenal cinta.

Jumat, 21 Oktober 2011

meracau (lagi)


Mungkin lebih baik jika jauh dan berjarak.

Haha,bagaiamana mungkin penggalan kalimat itu menjadi pilihan terakhir buatku?, buatku yang terang-terangan merasa teramat nyaman di sebelah kamu.
Aku adalah satu dari sekian banyak manusia yang merasa terlalu bodoh dan munafik jika harus menyia-nyiakan rasa yang terlanjur berkembang biak.

Cuma,hanya saja,tapi,,,,,,,,

Kali ini kasusnya beda. Sedikit berbeda dari yang biasanya. Haha, sebenarnya aku sudah mengalami hal semacam ini beberapa kali. Makanya aku bilang hanya sedikit berbeda. Beda individu yang menjadi subjek ceritanya.

Mungkin lebih baik harus menjadi jauh dan berjarak.

Aku sendiri masih sanksi dengan penggalan kalimat yang baru saja terlintas dalam benak ku.
Kenapa aku harus memutuskan untuk sendiri?,kenapa aku harus memutuskan untuk berjarak. Padahal jelas ketara bahwa aku merasa sangat amat nyaman dengan keberadaan mu.

Karena ,mungkin aku hanya akan menyodorkan hati untuk dipatahkan.
Karena mungkin aku hanya sedang berfantasi dengan dunia mimpiku sendiri.
Dan karena kamu memang harus kembali pada tempatmu yang seharusnya.

Aku bukan orang yang akan dengan serta merta merelakan rasa. Bukan tipikal manusia yang mampu mentolerir debar-debar yang terlanjur menggelegar. Tapi kali ini,harus.

Karena mungkin aku hanya akan menyodorkan hati untuk di patahkan
Karena mungkin aku hanya sedan berfantasi dengan dunia mimpiku.
Dan karena kamu memang harus kembali ke tempatmu yang seharusnya.

Tuuuuuut,tuuuuut, itu suara terakhir yang mampu aku ingat .
Dan secara harfiah. Itu memang kali terakhir percakapan kita.

Selasa, 11 Oktober 2011

perbincangan singkat bersama Yangkung

beberapa minggu yang lalu, aku ke rumah yang kung ku,hal yang sudah sangat amat jarang dan langka aku kerjakan dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ini. untuk pertama kalinya setelah sekian lama,untuk waktu yang kami habiskan dengan berjalan di rute kami masing-masing, kami berdua duduk bercengkrama. seperti sepasang kawan lama yang telah rindu untuk berbagi kisah,berbagi cerita hidup. terakhir, dalam ingatanku aku berada sedekat ini dengan yang kung adalah ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. dan walaupun tanpa makna, saat itu kami berbincang layaknya 2 orang dewasa yang sedang membuat rancang biru suatu negara.

sama seperti masa itu,yangkung dengan setia mendengarkan setiap detil kata yang meluncur dari mulutku, setiap emosi,setiap tendensi kalimat. bedanya, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, kulitnya belum sebegini keriputnya,matanya masih awas memperhatikan celotehanku, dan duduknya tak sebegini bongkoknya. untuk sesaat yang hening, aku sadar bahwa lelaki di hadapanku ini telah kian rapuh, telah di makan usia sebegini banyaknya.

yangkung mulai menanggapi semua ide ide ku,pemikiran pemikiran yang terlalu idealis ala mahasiswa semester awal. masih sama seperti yang dulu, seberapa pun kalimat- kalimatku kacau,tak tersusun rapi. yangkung masih akan setia mendengarka,tertawa kecil tanpa menyela atau menyalahkan. beliau hanya duduk dan menunggu aku selesai meletup-letup tanpa sedikitpun memotong  kata-kataku. belaiu masih sesosok laki-laki yang begitu sabar dan pengertian. meskipun di balut kulit kecoklatan yang kian keriput. beliau masih sosok yang begitu rendah hati dan penyayang.beliau yang hampir seumur hidupnya tak pernah ku saksikan mengeluh. tidak sedikitpun, meskipun di remehkan,di rendahkan atau di bohongi, sekalipun kecewa. sekalipun marah, tak pernah satu kalipun aku dengar beliau mengeluh.
beliau yang dengan penuh kasih membagi apa yang dipunya untuk anak-anaknya, sekalipun setelah itu, nyata aku lihat, beliau harus bernafas tersengal menyambung hidup. aku menyaksikan sendiri, ketika beliau mengeluarkan dompet coklat yang sama tua dengan usianya, dan hanya lembar 20000 terlipat yang tersisa. namun dengan suka cita, di belanjakan uang itu, hanya karena adik kecilku memohon sebuah boneka. aku cuma diam, cuma bisa diam.

(jadi kemana-mana,hehehe)

menaggapi semua ide gilaku,yangkung mulai angkat bicara.
dengan bahasanya yang begitu tertata apik,dengan nada suaranya yang memang selalu berwibawa,beliau mulai buka suara.

"dalam hidup ada 8 hal yang sebaiknya kita jalani,setidaknya. agar hidup menjadi seimbang,,
yang pertama take time to pray,lalu take time to read,yang ke tiga take time to play,yang ke empat take time to laugh,yang ke lima take time to gave, yang ke enam take time to loved and be loved, yang ke tujuh take time to share,dan yang terakhir take time to be friendly".

lantas beliau tersenyum,
menyadarkan aku dari idealisme menggebu gebu ku tadi. ada hal yang harus dan tidak harus menjadi bahan pemikiranku. ada hal yang harus dan tidak harus membebani neuron otaku.
ada yang penting dan belum menjadi penting.
ada yang hanya sebatas utopis,idealis dan ada juga yang harus di hadapi sebagai sebuah tantangan.sebagai kehidupan.

perbincangan aku dan yangkung,
membawa aku kembali berpijak pada molekul penyusunku, tanah. aku kembali menapak di bumi saetelah sekian lama terbang dalam rajutan imaji. dalam idelisme terlalu ideal.

hidup bukan soal aku dan kamu, aku dan mereka, atau aku dengan kalian.hidup bukan perkara "aku",mau"ku",atau menurut"ku".

Rabu, 28 September 2011

sayang kamu

entah kenapa hatiku selalu terlambat mensekresi enzim-enzim untuk melumat habis semua kenangan. entah memang kerja metabolismeku yang kian memburuk seiring menuanya usiaku. atau mungkin kenangan itu memang terlalu manis untuk di urai satu persatu dalam rentetan molekul yang lalu akan di rombak lagi nantinya.
entah.

rasanya urat-urat di sekujur kakiku menegang. memendek setiap kali langkahku mulai menjauh. rasanya ada serangkaian konspirasi dalam tubuhku,mulai dari ujung ujung otat dan ligamen,sampai pada neuoron dan akson,bahkan dendrit-dendrit yang hanya lembaran buluh pun ikut dalam agresi masal ini. badanku melakukan konfrontasi hebat,setiap kali aku mulai berpikir untuk memberi jarak antara jarak yang sudah terbangun.
ahahahaha,aku ingin berjarak dengan jarak,bukan salah ketik. silahkan mahfumi sendiri maknanya.

setiap kali aku berusaha menarik tuas,untuk menutup aksesku menuju kamu, di saat yang sama,segala keindahan yang entah selama ini tersembunyi dimana, mulai menampakan rupa. satu persatu menghajar alam sadarku, membuat keraguan memberangus sebagian besar nyaliku.lalu aku mulai menciut dalam sepi. aku masih terlalu takut untuk melepaskan peganganku. rasanya gamang ketika nanti tanpa kamu. rasanya tak terbayang jika nanti tanpa kamu.

aku bukan sedang merajuk, tidak. aku hanya mengatakan apa yang berloncatan dalam hati. seperti partikel partikel listrik yang memercikan api ketika putus dari sambungan kabel isolatornya.

aku sayang kamu.
tak cukupkah bagimu itu untuk bertahan disini?

aku sayang kamu.
tak bisakah itu kamu pegang erat dan tetap bertahan disini?

aku sayang kamu.
tak mampukah itu mengganti kecewamu dan membuat kamu tetap bertahan disini?

aku sayang kamu.
tak bisakah itu menjadi alasan bagimu untuk berkata "aku juga".

aku sayang kamu,
dan memang selalu begitu.

aku sayang kamu.

Jumat, 09 September 2011

perahu kertas

pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal,dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yag bertemu atau dipertemukan.

kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dalu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih.seperti kita maklumi, Adam akan kesepian tanpa hawa, dan kisah hidup manusia tak mungkin dimulai. barangkali waktu jadi beku dan semesta hanyalah ruang hampa yang tak memiliki apa-apa. hidup tak mencipta gerak,gerak tak menyusun peristiwa,dan peristiwa tak pernah membentangkan kisah macam apapun.

maka,lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainya. lihatlah kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya akan segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan.

kemudian lipatlah kertas yang terlipat dua tadi dengan sebuah lipatan lain secara vertikal. maka kau akan menjumpai kenyataan bahwa peristiwa selalu merupakan resultan dari persinggunga titik-titik takdir yang dimiliki sejumlah orang.

seseorang memiliki takdirnya sendiri sebagaimana seseorang lainya. takdir mereka berjalan berdasarkan natur tertentu, pada track tertentu, sampai pada sebuah kemungkinan tertentu bahwa mereka berpapasan, beririsan, bersnggungan dengan yang lain. Disanalah Adam menemukan makna "pertemuan", sebgaimana pertama kali ia menjumpai hawa pada tatapan pertamanya di surga-yang membuat detik kehidupanya berdetak. disanalah hidup dimulai sebagai fusi sinergis yang harmonis antara takdir seseorang dengan yang lainya.

kini lepaskanlah lipatan yang ke dua,maka kau akan menemukan sebuah pola berupa garis lurus vertikal. garis itulah yang akan menjadi "gurat" yang menentukan peristiwa-peristiwa berikutnya. semacam jejak yang ditinggalkan sebab memang "harus" ditinggalkan. gurat itulah yang akan menuntun hidup pada sebuah kerja perbaikan, upaya menentukan "sikap yg lain".

Adam dan hawa terusir dari surga setelah menggigit buah pengetahuan,lalu surga menjelma semacam "jejak" atau "gurat" bagi seluruh "kerja perbaikan", taubat, mereka berdua dalam rangka menempuh hidup mereka selanjutnya. kelak, jejak itu pulalah yang senantiasa mereka lacak sepajang hidupnya,"pulang".

tariklah sisi kiri dan kanan atas kertas tadi menjadi sebuah lipatan berbentuk segitiga-pertemukanlah ujung lipatannya tepat di tengah-tengah garis vertikal tadi. inilah perjalanan kembali melacak jejak,setelah perpisahan,kadang hidup memang harus dijalani dengan keteguhan dan pilihan hati masing-masing-sampai suatu hari kita bertemu kembali atau dipertemukan kembali. Itulah yang dirapalkan Adam dan Hawa dalam pengembaraan mereka masing-masing untuk "saling menemukan". hingga kelak mereka kembali bertemu-atau dipertemukan-di gunung cahaya,jabal Nur.

pada bagian bawah yang tersisa,buatlah lipatan segitiga kecil hingga ujungnya bersinggungan dengan segitiga diatasnya. lakukan di kedua sisinya. hingga kau mendapati sebuah segitiga sama kaki berbentuk mirip caping petani.

tuan/nona/nyonya.pada suatu titik tertentu,seperti sekarang,kau akan melihat hidup sebagai konfigurasi peristiwa pada giliranya membentuk sebuah kontinen makna.seperti bentuk yang kau dapatkan sejauh ini-dari kerja melipat-lipat yang kau lakukan. kau cukup bahagia sejauh ini,bukan?. Ya begitulah,ada beberapa peristiwa yang membuatmu sedih,bebas,bahagia, atau hampa. di sini, barangkali memaknai hidup sama seperti menikmati sebuah lukisan abstrak. kadang hidup bukan dihitung,tapi untuk diperhitungkan.bukan untuk dipikir tapi untuk dirasakan. seperti menebak judul lukisan abstrak, kadang hidup tak perlu di beri "judul" cukup di jalani saja.

ada sebuah ruang yang tercipta di tengah bentuk segitiga sama kaki tadi. bukalah dari bagian bawahnya lalu pertemukan sudut kiri bawah dengan kanan bawahnya, kau akan mendapati sebuah bentuk lain: wajik. inilah bagian yang terpenting dari keseluruhan perjalanan,saat setiap ruas saling menggenapkan. saat satu peristiwa menghubungkan diri dengan peristiwa lainya hingga terbaca sebagai sebuah cerita.
peristiwa yang membuatmu tertawa terbahak-bahak pada suatu hari,membuatmu tersenyum getir pada hari lainya. peristiwa yang pernah membuatmu senggugukan barangkali juga menjadi peristiwa yang membuatmu merasa bebas diwaktu lain.

hh,tak ada yang abadi kecuali ketidak abadian itu sendiri. kebahagian hanyalah satu sisi dari wajah lain kesedihan, seperti "tertekan" kadang-kadang juga merupakan nama lain dari "bebas". dibagian seperti ini, seseorang yang rela membaca kembali jejak dan peristiwa yang tertinggal akan bisa membaca hampir secara keseluruhan peristiwa-cerita yang (hampir) utuh. ketika seluruh cerita terbaca,seluruh peristiwapun terlacak.

pada bagian akhir, lipatlah bawah wajik itu ke atas-lakukan juga pada bagin sebaliknya. kau akan mendapati segitiga yang lain, lalu lakukan hal yang sama seperti ketika kau melipat bagian bawah segitiga menjadi bentuk wajik. kini kau punya bentuk wajik yang indah, yang merupakan konfigurasi apik dari lipatan demi lipatan. tepat di bagian atas,kau memiliki dua bagian rekah seprti kuncup, tariklah kuncup itu menjauh. dan kau akan mendapati perahu kertas....,

disana, sadarilah tuan/nona/nyonya,setiap detiknya, hidup adalah perjalanan menemukan bentuk. seberapa jauh manusia harus berjalan untuk di sebut manusia?,brapa peristiwa yang harus dialami untuk bisa mengerti semuanya?,hanya kamu yang tahu,setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri,atas perahu kertasnya sendiri-sendiri,

selanjutnya tiap orang pasti butuh teman berlayar. itulah sebabnya aku butuh kamu,seseorang yang akan menemaniku berlayar,melacak jejak "pulang". menuju Nya.

Selasa, 06 September 2011

karena,,,,,,

aku merajuk,karena,,,
aku manja,karena,,,
aku mengikat kamu disini,karena,,,
karena apa,akupun tak mengerti
tubuhku secara otomatis memerintahkan demikian
mungkin,,,
mungkin karena itu kamu,
ya benar,mungkin memang demikian
mungkin karena itu kamu.

kamu

kamu,orang di seberang lautan
tolong diam sejenak,
biar aku menikmati keberadaanmu
dengan caraku
lalu datanglah kemari, biar kudekap kamu
rasakan setiap jengkal kulitku yanga merindu,kamu
mahfumkan di benakmu,hembusan yang mengudara di sepanjang lehermu
khitmadkan dalam ingatanmu,tiap ruas jemariku yang membelai kamu,rindu
setelah itu,lenganku akan melonggar,
memberikanmu ruang untuk diam atau segera beranjak.

orang yang (rencananya) akan ku nikahi mendadak menjadi orang asing, yang setiap waktunya seolah berontak minta di bebaskan.
orang yang bertahun-tahun aku panggil papa,dalam sekejap mata menjadi orang lain,yang sama sekali tak aku kenali.
dan mama, mama orang yang seumur hidupnya ada buatku bersandar kala jatuh, yang selalu ada memeluk aku manja. tiba-tiba berubah kaku,mematung, dingin seperti pahatan es.
mendadak semua yang aku tahu, yang aku kenal menjadi asing buatku.
gugurnya daun,
desirnya angin,
mendung, bahkan gerimis yang biasanya jadi kecintaanku.
sosok dalam cermin itupun tak luput dari virus "mendadak aneh". sosok di cermin itu seharusnya aku, dan memang begitulah pada prinsipnya. tapi benarkah seperti itu rupaku?
aku mulai ragu. aku mulai menyanksikan segala hal. segala rupa kehidupan, termasuk yang terpantul dari cermin itu. termasuk kehidupanku sendiri.

pernahkah kamu rasa orang yang biasanya mengelilingi kamu, ada di sisimu. menjadi sama membingungkanya dengan keberadaan alien?.
anakmu, kekasihmu,istri atau mungkin suami mu, menjadi sekedar potret kabur, dimana sosok dalam foto itu  rasanya pernah kamu kenal baik, dulu.
lalu kamu mulai mempertanyakan eksistensi mereka. lalu menjadi limbung atas keberadaanmu sendiri.

sumpah, aku tidak sedang marah, tidak pada siapapun. tidak pada mama,papa,orang-orang itu, tidak juga pada diriku sendiri. aku juga tidak sedang berusaha melarikan diri, memangnya aku harus lari dari apa dan hendak kemana?,lagipula tempat apa yang mampu menyembunyikan aku dari "aku"?. aku juga bukan seorang yang tengah melakukan perawatan medis,aku tidak sedang gila,mencoba gila. bahkan aku tak sedang berminat untuk menjadi gila. yakinlah dengan hal itu.
aku hanya ingin disini sendirian,

sumpah bukan karena amarah,iri,dengki atau hal serupanya. mungkin aku hanya sedang limbung, jiwaku sedang kembung. terlalu banyak angin menderu dan menerpa batas sadarku belakangan ini.
tapi sumpah aku masih memegang kendali atas diriku. aku masih belum kehilangan batas sadarku. aku masih baik-baik saja secara fisik maupun kejiwaan. sekali lagi yakinilah itu.

hanya saja sebagiandari jiwaku merajuk.
memohon ruang dan waktu ekstra kali ini. untuk terkapar sendiri disini. diam dan duduk manis.
hanya demi menunggu mereka, semua substansi itu datang menjemputku, dan memastikan segalanya masih akan sama buatku. masih ada tempat buatku di dunia nya,dunia mereka. di tempat yang aku sebut keluarga maupun di rongga yang aku panggil hati.
aku harap mereka mampu menjelaskan, apakah aku yang mendadak jadi alien dalam ruang sadar mereka atau mereka yang baru saja  mlungsungi, berganti kulit. hingga aku rasa begitu asing dengan sosok-sosok itu.
aku masih akan disini. diam dan duduk manis,
hanya demi menunggu satu penjelasan.

Senin, 05 September 2011

Bahwa kamu tidak layak dicintai dengan cara ini,
itu benar.
kamu jiwa yang bebas,maka sudah selayaknya kamu bebas.
cinta ini beroleh penawar.
bukan luka,bukan duka atau cinta yang sama.
ini keindahan yang harus di mahfumi dalam diam.
dalam diamku dan diam mu.

bantu aku semampu mu.=)

no tittle

atas nama ratu pesona 
yang menaungi indah pada parasnya
aku memuji,bukan memuja

atas nama serpihan kuasaNya
yang mengukir lekuk elok sempurna
serupa tejamaya
membawa damai sejahtera
bagi indra yang menatap,menyentuh,merengkuh,memeluknya,
aku memuji,bukan memuja.

Gusti,
aku mengikhlas rasa yang bersemayam,
untuk kau jandakan hari ini,besok,lusa,atau kapanpun.
semoga dia Kau Jaga.

do'a ku

malang,03 september 2011

Gusti,
mungkin ini titik diman au harus berhenti egois. mementingkan hatiku.
aku tidak bisa memminta sesorang yang jengah dengan laku ku untuk selalu berada di sisiku.
aku tidak bisa memaksakan hatinya.
sekalipun rancang biru itu begitu indah dan sumpah, aku ingin memilikinya.
tapi kehendakMu adalah aturan main yang tidak dapat di patahkan.
Gusti,
beri aku kemampuan yang sama besar untuk mundur,melangkah kebelakang teratur. sama seperti ketika aku berlari menyambutnya dulu.
Gusti, 
beri aku kemapuan yang sama untu menghapusnya, sama seperti ketika aku dengan bersemangat menulis kisah dan cerita tentangnya.

disaksikan senja ini, aku mengikhlaskan dia dan apa yang akan terjadi setelah ini.

ternyata baru sekedar punggung ayam yang aku tahu.
masih banyak yang aku buta kan selama ini, dan cinta ini tak cukup besar untuk membuatnya tetap bertahan disisiku.
 

kekaguman

malang,06 september 2011


pertama-tama biar aku jelaskan. ini adalah satu percakapan hati yang terangkum begitu saja pada media kertas. jadi yang bicara disini adalah aku dan diriku. =)
setiap pindah alinea/paragraf.artinya sisi hatiku yang lain yang bicara,bisa dimengerti?. (bisaa aja deh)


kagum itu wujud kecintaan seseorang kepada sesamanya. tinggal tunggu waktu sebelum yang bersangkutan menyadari unsur cinta dari kekaguman itu. stuju?


enggak.


lo kok enggak?,itu bisa jadi awal yang sempurna buat cinta to?. tinggal masalah waktu apakah kesadaranya akan datang atau dibiarkan mengambang atas nama kekaguman.


beda, kagum itu beralasan,sementara cinta tidak.


hemb,terus posisinya kagum itu sendiri dimana?, lebih dari sekedar cinta. lebih dari sekedar luka. tapi dia bukan cinta apalagi luka. tidak berusaha memiliki, tapi terus saja melihat ke arah yang sama.


kagum tidak menimbulkan luka menurutku.


lantas dimana posisinya?


kagum bukan cinta, kagum juga bukan luka. tidak ingin memiliki tapi juga bukan kerinduan.


kalau bicara soal rasa, kecuali asam,manis,pahit,asin rasanya semua diluar kadar "ngeh" nya aku. dan kekaguman itu bikin sekujur tubuhku menggigil cemburu sendiri.


kagum itu tak serupa cinta,kagum mu hanya akan menggebu sesaat. sementara cinta tak mengenal arti selamanya. waktunya tak terbaca.


konsep tentang kekaguman itu bikin sekujur tubuhku cemburu sendiri. mengagumi cenderung memuja, melihat sebagai makhluk yang istimewa, tapi tetap berlabelkan sekedar kagum. sementara kagum itu sendiri lebih dari sekedar ala kadarnya.


oi,kagum itu lebih dari sekedar ala kadarnya. tunggu cinta macam apa yang sedang kita bahas sekarang?


yang menghasilkan getaran serupa kekaguman. keduaya lebih dari sekedar ala kadarnya. lalu dimana letak percabanganya hingga yang  dilabeli sebagai cinta sementara yang lain sebuah kekaguman?,apa hanya karena yang satu mampu diraih dan yang lain tidak?.


kamu pernah mengidolakan tokoh dari sesamamu kan?, banyak yang mengidolakan Lady D, mungirn srimulyani,khadijah atau bahkan ken dedes sekalipun. apa itu kamu sebut sebagai cinta?


lalu bagaimana ketika aku mengidolakan sahabatku?, sebut saja aku menaruh kagum pada si A,teman sepermainanku. aku memandang dia hampir setiap saat, tertawa saat dia tertawa, hanya karena aku menemukan alasan atas bahagiaku apa itu hanya sekedar kagum?. bisa jadi itu juga cinta kan??
kalo tokohnya dari orang yang dekat dengan lingkunganmu sendiri,kesanya jadi blur kan?. itu bisa meledak kapan saja,kecuali kalau kita sendiri yang terus menahanya, membentuk nya menjadi kagum. ini yang mau aku tahu, ada unsur menahan disini, apa kalo di lepaskan itu juga akan menjalar jadi cintta?


tidak selalu, bisa saja. tapi tidak ada hukum pasti yang menjelaskan tentang itu.


kagum itu hanya antara sang pengagum dengan idolanya, ada semesta sendiri. sekalipun transparan, itu tetap terpisah dariku dan nyata nya jagad raya. mereka dalam kratonya sendiri.


ya seperti itulah,


lantas boleh aku cemburu??


tidak, karena cemburu adalah milik cinta bukan kagum.


lalu?


pastikan dulu itu sekedar kekaguman.


aaaah,dari tadi ini berbelit belit. bagaimana cara membuktikanya? dengan waktu?, lantas harus ku teukan dia sudah jatuh cinta begitu dalam pada idolanya, dia dalam tabir yang tertembus aku?,lantas aku hanya bisa mengikhlaskan??,bodoh benar cinta.


memang itu siklusnya.
waktu yang akan membantu kamu,dia dan semua,mengerti.

Kamis, 25 Agustus 2011

emosi

malang,25 Agustus 2011

kecintaan saya pada aksara,membawa saya pada titik ini. dimana saya bergantung pada aksara untuk mengekspresikan sejumlah perasaan. bagaimana saya dan aksara bersinergi dalam kata membentuk rentetan emosi, yang cuma bisa dan selalu hanya bisa saya ceritakan pada huruf,pada kata,pada tanda baca, pada kalimat.
seperti hari ini, ada sebuah emosi yang menggelitik di ulu hati. awalnya hanya bergelayut kesana kemari seperti pot bunga yang berayun diterpa angin,ketika digantung di sudut teras. lalu perlahan,dia menguat. menonjoki jantungku,laksana petinju yang mencintai samsak,hingga memukulinya sepenuh jiwa. bagi petinju samsak itu kawannya, sekaligus lawa paling tangguh. tapi emosi ini, ini layaknya benalu. aku lelah.
apa yang aku rasakan.
kerinduan,kecintaan,kegelisahan,kebencian,keinginan untuk melenyapkan,dengki,iri,sakit hati.
haah,semua bersinergi menjadi satu kesatuan yang menyedihkan.
bisakah itu dimengerti??,bisakah itu beroleh kata maklum?,
bahwa aku tidak bisa,tidak mampu meluapkan emosi ini. kecuali dalam huruf,dalam aksara. yang harus di eja,yang harus dibaca terbata.
tertahan semua,tertahan segalanya. semuanya menjadi satu,ber fusi menjadi satu emosi yang menyedihkan.dan aku cuma bisa membaca terbata, mengeja.

Kamis, 11 Agustus 2011

pewangi


Aku sudah mencari. Rasanya semua toko di kota ini sudah aku kunjungi. Dari jenis toko kelontong di tepi jalan hingga pusat perbelanjaan sudah kuobrak-abrik. Dan lihatlah hasilnya sekarang, aku punya satu ruangan khusus yang kusebut sebagai laboratorium pewangi. Di sanalah aku menyimpan seluruh hasil perburuanku selama ini.

Tak perlu situasi khusus untuk menghadirkan segala hal tentangmu. Kamu, sudah seperti udara yang setiap tarikan nafas aku masukkan dalam paru-paru. Kamu, sudah seperti bayangan yang tak pernah jauh dariku. Kamu bukan hantu, meskipun kamu yang seperti udara dan bayangan itu adalah suatu benda abstrak. Tak bisa kusentuh seperti cahaya, meski spektrumnya begitu indah. Tak dapat kugenggam seperti air, walau alirannya begitu kuat.

Kita pernah berdebat tentang ketidakpastian, suatu konsep yang tak akan pernah terpisah dari kehidupan. Kita pun sering berdebat tentang Tuhan, zat maha mulia yang sesungguhnya tak layak diperdebatkan di warung kopi oleh orang-orang tak berilmu seperti kita. Dan begitu banyak hal remeh yang kita kupas selama berjam-jam. Teori-teori kuno yang barangkali akan langsung membuat lawan bicaraku tertidur jika saja bukan kamu.

Aku, anak manusia yang terpenjara, yang terkekang dengan segala macam peraturan dari A sampai Z, segera menemukan hidup bersamamu. Aku segera bisa merasakan hembusan angin, tetesan air, sinar matahari, dan tentu saja--yang tak pernah aku lupa--aroma pewangi pakaian yang selalu melekat pada sosokmu. Ternyata kamu yang berhasil memanusiakan aku.

Saat kamu mulai hadir dalam tiap detik waktuku, aku seperti memiliki beberapa kemampuan ekstra. Hidungku ternyata sangat sensitif terhadap aroma pewangimu. Tanganku tiba-tiba fasih benar menggambar lekuk wajahmu. Aku pun tak pernah kehabisan kata untuk menceritakanmu. Bahkan, terkadang aku merasa mulai berpikir dengan otakmu. Kamu menjadi virus paling ganas yang menghancurkan semua antibodiku. kemudian menginfeksi setiap sel dalam tubuhku.

Aku berburu pewangi pakaian juga karenamu. Bukannya aku takut kehilangan kenangan akan kamu, sungguh bukan karena itu. Bagaimana mungkin aku lupa menghirup udara? Bagaimana mungkin aku bisa mengusir bayanganku? Aku cuma ingin merasakanmu ada bukan hanya dalam alam bawah sadarku. Dan aku memilih pewangi untuk merepresentasikanmu.

Kita pernah memiliki matahari pagi. Dilatarbelakangi debur ombak dan hembus angin laut, kita seperti dua sosok manusia dalam sebuah lukisan dinding. Kadang kita bercerita panjang lebar, kadang mematung beberapa lama. Kamu saat itu begitu dekat. Cukup dekat hingga aku bisa melihat matamu yang berkaca-kaca ketika bercerita tentang kisah pedihmu. Begitu dekat sampai aku bisa mencium bau pewangi pakainmu bercampur bau rokok dari mulutmu. Hmmm, aku rindu...

Sepanjang perjalanan menjemput matahari pagi kita saat itu, kamu berceloteh tanpa henti. Menumpahkan segala rahasia yang kamu tutup rapat di balik topeng baja yang tak pernah lupa kamu pakai tiap saat. Kamu seperti seorang balita manja ketika bercerita tentang masa kecilmu. Kamu polos seperti bayi saat menceritakan kisah-kisah hidupmu. Kamu yang seperti itulah yang selalu ada bersamaku, menemaniku.

Saat sinar pertama matahari kita muncul, dengan naifnya kamu berteriak kegirangan. Persis seperti anak kecil tingkahmu. Aku sama sekali tidak keberatan dengan segala tingkah laku yang di luar batas normalmu itu.

Matahari kita terbit sangat pelan. Mengabadikan tiap momen yang disorotnya dari ujung kaki langit pagi itu. Dan kita seolah tak ingin menyia-nyiakan sedetikpun kebersamaan kita pada pagi buta itu.

Sudah cukup lama matahari kita terbenam dan terbit kembali. Dia tidak pernah lagi menjadi milik kita. Dia tidak lagi merekam sosok kita. Dia mungkin sedang mencari-cari kita sama seperti aku yang mencarimu. Dia barangkali mengharapkan kita menunggunya muncul di satu sudut bumi sama seperti aku yang mengharapkannya muncul membawamu padaku. Maka, dia aku lewatkan saja tiap hari.

Kini aku memiliki ribuan pewangi pakaian dalam laboratoriumku. Terdiri dari berbagai bentuk dan merk. Tersusun rapi tanpa pernah aku pakai. Semuanya punya aroma yang mirip dengan aroma pewangi pakaianmu. tapi tak satupun yang sama. Hanya mirip, tapi berbeda. Aku tak bisa menggambarkan dengan gamblang apa bedanya, tapi hatiku selalu bilang bahwa tak ada yang sama. Tak ada yang sama meskipun aku sudah mencari ke semua tempat.


Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

          (Hatiku Selembar Daun, Sapardi Djoko Damono)

Kamis, 28 Juli 2011

rumahku,kamu

tempatku pulang adalah kamu. setelah lelah,
setelah tak sedikitpun bau sabun tadi pagi menempel di kulit penuh peluh.
kamu adalah tempatku pulang,

setelah panas terik mengusutkan neuron-neoron dalam otaku.
kamu adalah tempatku pulang.

dan kamu,rumahku. mendadak menjadi yang paling asing dalam benak ku.

astaga aku merasa asing dengan tempatku berteduh?
tidak kah itu menyedihkan?.

aku merasa jauh dengan tempatku bernaung,
tidak kah itu sebuah ironi?

karena kamu adalah rumahku,karena kamu adalah tempatku jatuh dan bertahan.
kamu adalah keyakinan sekaligus keraguan, tempatku bertanya dan menemukan jawaban.
kamu adalah rumah. yang mendorongku berjalan dan meraih tanganku ketika berlari.
kamu harusnya yang paling dekat. sekalipun jauh.
kamu harusnya yang paling dekat. sekalipun jauh.
kamu harusnya yang paling dekat. sekalipun jauh.

Jumat, 08 Juli 2011

sempurna

kamu adalah suatu konsep dari imaji ku. konsep tentang seorang lelaki sempurna. Bukan sebuah kesempurnaan dalam makna yang terlalu teoritis. bukan pula secara harfiah, yang memaknai sempurna dengan satu nilai penuh atau maksimal. kamu sempurna, menjadi sangaikt sempurna ketika mampu memenuhi apa yang aku butuhkan. kamu sempurna karena kamu memberikan apa yang kamu miliki utuh buatku. meskipun yang aku butuhkan cuma segelas air putih. dan yang kamu miliki memang cuma segelas air putih. kamu jadi sempurna karena itu.

tanpa aksara

Lama tidak bersua dengan rentetan kata dan makna, sepertinya mendadak aku jadi bisu. Bukanya tanpa suara, hanya saja belakangan ini aku terlalu sibuk menata realita dalam susunan terperinci yang aku sebut agenda. Sampai-sampai aku lupa mengoleksi aksara dan beragam cerita sbeperti yang aku lakukan di hampir sepanjag usiaku (tentunya setelah aku lancar membaca).
Aku, aku yang biasanya mensakralkan hampir semua peristiwa, mendadak lupa caranya bertutur cerita. Rasanya seperti tidak benar-benar nyata. ah, bagaimana harus aku nyatakan, bahwa belakangan aku hampa. berusaha menjadi orang yang logis, memaksaku menjadi seseorang yang benar-benar membosankan. Setiap harinya aku masih bergelut dengan bahasa, dengan kosa kata. tapi yang aku rangkai tak lagi sama, yang kutulis adalah analisi analisi bodoh tentang perekonomian dunia, atau nanti dilain kesempatan memberi komentar komentar idealis soal perkembangan globalisasi. Ah, itu semua sama sekali membosankan, di dunia yang hanya kenal berlari, dan berlari. belakangan aku di paksa jadi bagian dari rutinitas itu. tak ada lagi duduk berjam-jam di bawah pohon akasia, menikamati jatuhnya bunga. tak ada lagi berkendara dengan kecepatan hampir nol hanya untuk menikmati udara pagi. semua menjadi rutinitas "normal". ya "normal" dalam versi mereka semua, dan tidak bagiku.
aku adalah satu dari sekian banyak manusia, yang akan di cap bodoh oleh semua umat (mungkin). karena aku adalah manusia yang lebih memilih duduk berjam-jam di atas karang, di tepian laut, membiarkan semua tender lepas dari jangkauan. hanya untuk menikmati angin yang berderu mengibaskan rambutku,mendengar ombak memeluk pantainya mesra. karena aku adalah seorang manusia yang lebih memilih mematung berjam-jam di atas kawah putih, dan menikmati suasana paling sempurna.
aku merindukan hidup kala itu

Minggu, 01 Mei 2011

dialog dua sisi hati

A:apa yang membuatmu bertahan?,padahal nyata dia hanya menunggumu melangkah pergi sendiri,

B:karena hati ini layak diperjuangkan,
A: sebelah mananya yg kamu sebut sebagai perjuangan??,ini semua kebodohan. Ayo dong buka matamu,dia hanya menunggu kamu pergi dengan keinginanmu sendiri,dia cuma tidak ingin bersikap jahat,
B: dia memang tidak jahat,
A: hai nonna pemimpi,bangun dan lihatlah kenyataan!!
B: hahaha,aku melihat kok,,,aku tahu apa yang ada dan sedang terjadi di depanku,
A: kalau begitu,kenapa bertahan?
B: karena hati ini layak diperjuangkan,karena dia layak aku perjuangkan, karena semua ini layak di perjuangkan.
A: kamu egois,naif atau bodoh??,mana yg kamu sebut perjuangan??,siapa yang sedang kamu perjuangkan!!!,
B:aku memperjuangkan apa yang aku anggap baik,sayang,,,
A: apa yang baik dari semua ini??,dia sebenarnya sudah meronta akan keadaan ini,masih kamu ingin mempertahankan dia?
B: haha,ya kamu ada benarnya,,,tapi aku tidak ingin berhenti di titik ini,,
A: lalu???
B: biar aku coba sekali lagi,,,
A: sampai kapan mau begini??
B: sampai dia yang tak tahan sendiri, dan meminta aku pergi,
A: kamu egois dong brarti,,
B: haha,aku hanya tidak ingin melepaskan apa yang bahkan belum sempat aku genggam,sweety,

A: nah,thats the point,''belum sempat aku genggam'',,,brati kamu sadar dong dia bukan milikmu,bukan seharusnya diperjuangkan. Pergi sajalah, kamu benar-benar suka mempersulit keadaan,

B:mempersulit gimana??
A: ya begini,akan jadi sederhana,ketika kamu lepaskan. Toh nothing to lose dong,,,
B: haha,iya juga sih ya,,,tapi aku mau disini,,,
A: kamu membuat hal yang sederhana jadi rumit,
B: yaaa maaap,aku hanya ingin membuat segalanya seperti semula,
A: haaaah,bagaimana jika itu semua butuh waktu lama??
B: ya aku bertahan untuk waktu yang lama,,,simpel saja kan,
A: kalau dia tidak juga kembali seperti apa mau mu??
B: hahaha,entahlah,
A: tu kan,bingung,apalagi aku,padahal kita satu ruas hati yang sama lo ya,,,kamu keras kepala,hahaha,,,sudahlah,nanti kita sambung lagi,,
B: siap,nona,,,jangan coba2 racuni aku dengan kerealistisanmu lagi, aku punya keyakinanku sendiri. Keyakinan yang mungkin hanya akan menjadi lelucon bagimu dan semua pemikiran realistismu,,,tapi aku yakin akan hal itu. Suatu saat nanti,kita akan temukan.

A: apa???

B: dia.



itu beberapa obrolan singkat yang terjadi,sebelum pain killer ku datang, sebelum aku dibius dalam valium. jatuh cinta lagi,haha,,,dan lagi-lagi aku harus menahan semua lewat rentetan valium yang melewati kerongkonganku, entah sudah berapa puluh kali dalam 2 jam terakhir.
aku  butuh obat tidur, untuk menjaga mataku terpejam lebih lama. karena aku kelelahan.

Kamis, 14 April 2011

first kiss?

"waktu dalam dekapmu,aku seolah buta akan salah dan benar,hanya ingin lebih lama mendengar degup jantungmu,itu saja,,," 

Jam 7 lewat kamu baru datang, dari balik pintu kaca itu, aku mengenali sosokmu. Kamu sibuk menjetikan jari-jarimu pada sederet huruf,hendak mengirimkan sesuatu sepertinya. Mungkin untuk ku, mungkin untuk dia.Aku beranjak dari kursi yang sedari tadi tanpa banyak protes menemaniku, merangkai babibu omong kosong. Kamu menangkap kehadiranku, berjalan memperlambat langkah untuk beberapa saat, menunggu reaksi lanjutan dari aku. Aku segera melambaikan tangan pada 2 temanku yang sudah benar-benar tampak berantakan(efek karaoke sambil jingkrak-jingkrak), membuat satu sinyal perpisahan yang umum digunakan. Aku berjalan ke arahmu, mulai menggamit tanganmu, meminta sedikit penjelasan,bahwa sekarang (setidaknya saat ini) kamu milikku. Kita ketuar dari sebuah mall, memasuki mall yang lain. Tak berjarak jauh, hanya beberapa menit ditempuh dengan jalan kaki. Kamu mulai menebak-nebak apa yang hendak aku bicarakan. kamu mulai menerka-nerka apa yang berlarian sejak 30 menit yang lalu, atau mungkin sejak 4 tahun yang lalu,sejak aku mulai kenal kamu.
pintu kaca itu terbuka otomatis,kita menapaki jalan jalan di sekitar hiruk pikuk itu masih dalam pose yang sama, aku masih menggamit tanganmu, mendekatkanya pada jantung yang memburu dashyat. mencoba menyembunyikan itu,dentuman itu, agar kamu tak mendengarnya.
Kita menuju salah satu tempat bermain,(bukan tk), sebentar kita duduk. Aku bilang untuk mengakhiri semua. dan dengan enteng kamu bilang "enggak,,aku kira mau ngomong apa...". aku mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang aku miliki untuk mengatakan semua itu dan kamu cuma menanggapi enteng.aku merajuk, memohon satu  pengampunan dari kamu, meminta satu pengabulan, tolong,,,
kamu keukeuh dengan keputusanmu,mencoba mengalihkan pikiran dengan bermain. membuat sekujur tubuhku terasa lemas, aku lelah...

hari  tak akan berakhir hanya dengan sejumput lelah,,,,

masih berlanjut, kali ini kamu genggam tanganku,aku mencoba melarikan diri dari genggam itu, meski harus di akui sisi lain dari tubuh ini,menikmati itu. kita berjalan menuju tempat lain. sekali lagi kita duduk, kamu bicara, aku bicara. sekali lagi aku meminta, mungkin bukan cuma sekali, sudah ratusan semenjak kita berjalan menelusuri jalan-jalan itu tadi. dan masih dengan jawaban yang sama,"enggak", kamu memberikan alasan yang tidak masuk akal, bahkan jika kamu menilai aku masih anak kecil.bahkan itu terdengar konyol sekalipun untuk anak kecil layaknya aku.
kamu mulai meledak-ledak,menunjukan emosi yang tak terbaca. entah apa perbincangan kita sebelumnya, dan entah kenapa tiba-tiba aku mendaratkan satu kecupan singkat di pipimu. aku lupa

8 lewat,,
hampir setengah 9, dan aku masih berada dalam genggamtu, kita keluar dari mall itu, kembali ke tempat sebelumnya. menyusuri jalan yang sama, dengan perasaan sedikit berbeda. akhirnya aku yang reda. kamu menang. duduk sebentar, dan kamu bilang ke kampus yuk,,,(emang deket kampus sih)
aku mengiyakan walau agak ragu. 10 menit(,gak sampek), kita memasuki area kampus, mem-parkir motormu, dan lagi lagi kita berjalan tanpa tujuan,mungkin. aku memang tak mengerti tujuanmu, tapi kamu, rasanya kamu sudah punya segudang aktivitas yang terjadwal sempurna dalam kepala mu. mondar-mandir,aku tak mengerti. sampai kita di depan lift, kamu bilang dengan lucunya,,''aku makan permen ya'', heran aku dengan pernyataanmu itu,,
satu obrolan singkat, dan tiba-tiba aku mendekatkan tubuhku sampai tanpa jarak,''cium aku'', aku juga tersentak pada pernyataanku sendiri. entahlah,,

hari kian pudar saat kamu menggenggam tanganku sekali lagi,
kali ini kita menuju sebuah deretan kamar mandi.

kamu mengecek satu -satu kamar mandi, entah apa yang kamu pastikan. tanpa melepaas tanganku kamu buka satu persatu ruang tanpa lampu itu. pintu terakhir yang kamu buka, lalu menarik aku sedikit kencang, membawa ku masuk kesana, berdua.

entah apa,aku buta akan benar dan salah ketika bersama kamu,,,

gelap,masih aku meraba-raba,kamu sudah mendaratkan bibirmu,tepat di atas bibirku, sedikit tersentak,aku terpejam. Kamu,dengan tubuhmu, kamu dorong aku ke sudut ruang, membiarkan aku terhimpit dinding dinding porselen, membuatku aku tak punya ruang bergerak. Basah, sekelebat itu yang aku ingat. kamu mulai menggiigit bibirku,meletakan lidahmu diantara rongga mulut kita. aku merasa aneh, tapi entahlah aku menikmatinya. cukup lama,kamu cumbui aku, lalu perlahan menarik tubuh yang seolah bersenyawa. kamu peluk aku dan kamu bilang,''jangan pernah berpkir aneh-aneh lagi''. sekuat tenaga aku rengkuh kamu, aku tak ingin melepas kamu (malam ini). setengah berbisik aku bilang,''it's my first''. kamu usap rambutku,,

once more,

kali ini kamu cumbu aku dengan lebih syahdu, tubuhku yang mulai terbiasa, mengikuti alur gerakmu, ketika kamu cumbu aku,ketika kamu mulai menyentuh satu persatu tubuhku. ah entahlah, aku hanya menikmati itu semua. ketika kamu menciumi leherku,aku hanya bisa tersenyum geli. berulang kali kamu kecup bibir,pipi,keningku, berungkali pula kamu bilang jangan berpikir aneh aneh lagi. berulang kali,,
dalam dekapmu aku tak henti  berpikir,apa ini salah??

kamu dan malam itu.
apa itu semua salah?

(thanks for miss anonim,for the inspiration wkakakakakak)

Rabu, 13 April 2011

Malam

Akulah malam
Serpihan rasa lelah dalam senyap
Akulah malam
aku memberimu dingin untuk melupakan
Akulah malam
jangan tentang aku,karena akulah sang malam
Tak pernah ada yang bertanya padaku
lelahkah aku menjadi malam?
lelahkah aku selalu menjadi mimpi?
lelahkah aku tak terlihat?
lelahkah aku berada di sini?
Tak pernah ada yang bertanya
karena tak pernah ada yang peduli..
Akulah sang malam

tentang seorang "sahabat"

Ini sebuah kisah perjalanan hatiku. Terjadi dalam waktu yang tampaknya hanya sekelebat,tapi nyatanya sensasi luka yang timbul sungguh terlampau dalam. Terlalu dalam bahkan untuk bisa mengucur darah.

Aku Jatuh cinta pada pandangan pertama,kedua,ketiga,dan seterusnya,,,

ketika kamu datang dengan senyum lembut itu. Ketika kamu menyapa dan memberikan aku kemampuan untuk berdiri 2 kali lebih tegap.Ketika kamu menawarkan rasa peduli itu.

Semampuku aku menolak,menghindar dari segala pancar hangat itu.
Bukan karena munafik.

tapi karena aku tahu,hatiku tak akan mampu bertahan di dekatmu. dia rapuh.

Kamu bilang aku berharga,di hatimu aku bukan foto bergerombol dengan bingkai kaya ala kadarnya,di hatimu aku foto close up dengan sebuah bingkai emas.
Aku tak terganti,bahkan olehnya. Artiku lebih dari dia. kamu sendiri yang bilang semua itu. Kamu bilang kamu nyaman ada di sebelahku,kamu menertawakan kebodohanmu,bebas membicarakan apa yang kamu mau.Kamu sendiri yang bilang itu..
aku tak pernah minta apalagi memaksa kamu mengatakan itu.
kamu sendiri yang katakan itu. Hingga kamu menyentuh kebanggaanku. Hingga kamu menggenggam kebanggaanku.

lalu,semua berbalik. dia masuk ke hidupmu.

semuanya berubah.Kamu bilang,aku alasanmu meragu. Nyatanya kamu sama sekali tak mengharap keberadaanku. Kamu bilang ada ketakutan,tapi ketika aku beranjak pergi,kamu seolah membukakan pintu itu lebar lebar. Kamu bilang let`s hold each other and jump over the wall. Sekarang aku berdiri tepat di depan dinding itu. Dan kamu,,dimana kamu?


Aku sempat katakan isi hatiku,dan kamu jawab dengan ucap singkat
"anggap saya sebagai sahabat",,,


menurutmu,hatiku ini terbuat dari apa?batu?
hingga sebentar kamu bisa minta hati ini untuk mengerti kamu,lalu nanti kamu minta dia untuk benci kamu,lalu sebentar lagi kamu minta dia untuk kembali memaklumi sikapmu,,,

mampukah aku??

hati ini bukan bak mandi,yang bisa di keringkan dan di isi kembali!

kamu tahu???inginya aku maki kamu,menyalahkan kamu,mencerca,,,
tapi aku tak mampu,,jangankan marah,menatapmu saja aku tak mampu,,


kamu berharga,aku ingin kamu,lebih dari arti kata ingin itu sendiri..
aku hancur,,,^^

puas kah kamu dengan kenyataan ini??

Selasa, 08 Februari 2011

=D

Aku bahagia dan tertawa karena hal hal sederhana. Mudah saja membuatku tertawa, cukup dengan menjadi kamu apa adanya. Mudah sekali membuat aku bahagia, cukup dengan menjadi kamu apa adanya. Karena adanya kamu dan dengan apa adanya kamu itu,membahagiakan. =D

Aku bisa tertawa seharian jika bersama kamu, bukan karena kamu berusaha melucu atau melebih lebihkan sesuatu. Justru karena kamu jujur dalam berlaku. Justru karena kamu hanya menjadi apa adanya kamu. Kamu istimewa dalam sederhana. Kamu sederhana makanya terlihat istimewa. ^^

Aku bahagia karena hal hal sederhana, makanya aku bahagia karena kamu.

Kita semua berada dalam satu naungan, yang kita namakan teman. Kita berada dalam sebuah ikatan yang kita sebut teman. kita terikat dalam satu hubungan, dan kita sebut itu teman.

Hanya hubungan sederhana, tentang saling menyayangi dan menghormati.=D.hanya hubungan sederhana, tapi membuat kita tertawa dan bahagia selalu,

Sabtu, 05 Februari 2011

untitled

Di sini sebuah dialog antar hati terjadi,

“Kamu itu mulai suka sama dia, kamu tahu itu. Kamu mulai terbiasa sama kehadiran dia.Dia jadi sebuah rutinitas buat kamu. Kamu tahu itu salah tapi kamu terus jalan maju, apa mau mu?”
Sepihak hati mulai menghakimi.

“Ngawur, bilang apa kamu itu? Aku gak mungkin suka sama dia, dia terlalu berharga untuk sekedar jadi seorang pacar. Dia terlalu berharga. Langka, jarang aku ketemu orang yang sejalan dengan pemikiran-pemikiran gilaku. Bahkan nyaris gak pernah, dan dia terlalu berharga untuk sekedar disayangi sebatas pacar. Aku gak akan rela. Gak akan pernah rela.”
Hatiku yang lain mulai membentuk pembelaan diri.

“Munafik! Aku ini hatimu, aku tahu apa yang kamu rasakan. Perasaan ini, perasaan ini apa namanya itu kalau bukan sayang? Kamu ketagihan sama smsnya, ketagihan telponnya. Apa itu namanya kalau bukan sayang? Kamu itu gak jelas, ambigu! Tempatkan dia sesuai porsinya! Kamu mau kasih dia tempat macam apa di dalamku?
Hatiku yang sisi ini memang tak pernah bersahabat.

“Aku gak munafik, dan jangan pernah bilang kayak gitu lagi! Kamu tahu dengan jelas aku sayang dia, sayang sebagai apa. Sayang yang seperti apa. Kamu tahu itu dengan jelas. Seharusnya kamu juga ingat, dia punya orang lain yang butuh dia disana. Buat dia jaga, dan kamu harus inget dia sayang sama orang itu. Dan aku, aku nempatin dia jauh di atas kata pacar. Jauh lebih penting ketimbang pacar. Jadi jangan pojokkan aku dengan pemikiran-pemikiran bodoh macam itu.”
Akhirnya, meledak juga perasaan itu.

“Lalu aku harus bilang apa? Apa namanya itu? Kamu itu ambigu. Kalau emang gak suka kenapa sok perhatian gitu?”
Dan sisi lain diriku masih belum puas mencerca, mencari-cari keterangan tentang ini semua.

“Aku gak sok perhatian, itu murni karena saya peduli. Bukan sok cari muka atau apa. Ini memang wujud kepedulianku. Jangan selalu di salah artikan setiap perhatianku itu sebuah rasa suka. Ini lebih dari sekedar suka, ini sayang. Tapi kamu harus inget! Ini bukan sayang yang seperti itu. Bukan sayang yang ingin dia ada terus, bukan ingin jadi pacar atau apa. Ini murni sayang yang tulus. Gak bersyrat. Ini sayang sebagai seorang apa ya? Teman yang benar-benar saya harapkan. Ngerti gak si? Cukup lama aku harus mendem-mendem apa yang nge-grundel disini, terus aku ketemu orang yang bisa dengan gampang menerima semua pemikiran saya. Dan bahkan meng- amini semua itu. Lebih dari sebuah kata teman, di atas kata pacar. Entah apalah itu”
Sebuah penjelasan yang di harapkan akhirnya meluncur begitu saja.

“Terus harus aku sebut perasaan mu ini apa”
Masih belum puas mencerca penjelasan.

“Jangan sebut apapun. Biarin aja! Gak usah di kotak-kotakkan aku sudah terlalu enjoy dengan ini semua.”
Aku putuskan untuk menggantung akhir dari monolog ini.

“Kita lihat, sampai kapan kamu mau bertahan dengan sisi hati yang itu.”
Sisi hati ku yang ini akhirnya melancarkan sebuah tantangan.

“Silahkan”
Sementara hatiku di bagian yang lain, menerima dengan senyum puas.

Dan monolog hatiku tak pernah bertemu sebuah titik temu. Mereka selalu sampai pada persimpangan. Sementara aku cuma bisa menahan semua. Jadi saksi bisu sekaligus sie sarana prasarana, menyediakan tempat mereka untuk berdebat.
Lalu semua pertentangan itu merangsak masuk ke dalam alam bawah sadarku, meminta dengan sangat untuk dilupakan. Sayangnya, siklus hati justru mementahkan semuanya dengan memutarkan sebuah film pendek yang berkelebat begitu saja di otakku ketika aku terpejam. Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Menahan semua gelombang amarah yang siap meledak dan menerjang apapun di sekitarnya jika nanti bisa menampakan wujudnya. Ini amarah sudah membabi buta, mendobrak pintu hati, merusak ruang ruang sempit di dalamnya. Hati ini sudah cukup sempit dan sekarang kian berantakan.
ARGH!! Harus apa lagi?

Dan di sinilah fase Rizal bagus bekerja. Mulai mencoba menyelesaikan semua kemelut itu.
Seruas demi seruas pemikiran mulai disederhanakan. Sedikit demi sedikit benang kusut direntangkan. Entah kapan semua akan jadi benar benar mudah untuk dijalani, yang jelas ini sudah pada tahapan benar, menurut saya.

Fase rizal bagus, apa sih fase rizal bagus itu? Rizal bagus adalah sebuah tahapan. Suatu proses pendewasaan diri. Sebuah proses dimana terjadi penyederhanaan pemikiran tentang yang salah dan benar. Rizal bagus adalah suatu pola pandang khas anak manusia yang membedakan suatu masalah hanya dengan “iya” dan “tidak”. Rizal bagus adalah sebuah pola pemikiran ekstrem, di atas normal tentang hakikat kehidupan, dan Rizal bagus adalah suatu proses klasifikasi yang merumuskan masalah, murni, berdasar logika dan hati. Yang walaupun tersakiti, masih mampu dengan enteng berkata, ”Peduli apa kamu, toh saya yang sayang”. Itulah rizal bagus.
Katakanlah, Rizal Bagus sebagai suatu titik balik dalam kehidupan saya. Ya, itu memang benar. Sebuah gambaran nyata, sebuah realisasi dari pemikiran pemikiran saya, yang tersimpan rapat jauh di alam bawah sadar saya. 
Sengaja memang saya simpan semua ide dan gagasan gila itu di sana, karena selama ini lingkungan saya menganggap semua itu terlalu gila. FREAK. Aneh.
Tapi semua pemikiran itu mendadak memaksa keluar, ketika sebuah stimulus lembut menyentuh ujung pikir saya, ketika seorang Rizal bagus datang.

Monolog hari itu “berakhir” dengan sebuah tanda tanya dan senyuman di bibir ku.^^

(“berakhir”, karena kenyataanya semua masih belum benar benar selesai.)

Puncak Rinjani di akhir Januari

Kemarin saya naik ke Rinjani dengan sejuta beban
(yaiya lah,secara ransel segambreng gambreng nyangkut di pundakku,,-.-)

Aku kemarin naik dengan banyak pertanyaan dan hari ini aku turun dengan sebuah jawaban. 
Satu jawaban yang merangkum semua penjelasan.^^

Mereka yang naik ke Rinjani bareng aku kemarin,mereka masing masing punya tujuan yang beda...

Ada yang emang ambisi untuk menaklukan puncak Rinjani..
Ada yang ikut,cuman buat jaga gengsi,semacem pembuktian diri gitu dah,,,
ada juga yang terpaksa ikut...
(wkakkakk...sori mas,,,yg penting gak sebut merk kan...)
Ada juga yang murni anak gunung,yang emang doyan ama yang beginian...
Ada lagi yang naik ke Rinjani,karena lagi desperate..,
Nyari pencerahan,,
ada juga yang kayak aku...
Have no point to reach,, I have no reason,,,
Hhe,,

Menganut prinsip BHINEKA TUNGGAL IKA,,kami berangkat ke Rinjani tanpa peduli,apa sebenernya yang jadi tujuan dari masing masing. Yang penting,kita semua bisa sampai di puncak dengan selamat, secepatnya...

Di sini suasananya bener bener beda. Banyak pohon,banyak suara,banyak pendaki lain (maklum liburan). Di sini rame banget. Tapi di saat yang sama aku merasa hilang. Sendiri.
Aku merasa di lontarkan karet kosmik,ke satu dimensi lain. Dimana aku harus bisa bertahan di atas kaki ku sendiri. Dimana aku harus bisa mencapai sesuatu dengan dayaku sendiri. 
Ya aku merasa benar benar sendiri.

Dan jujur aku benci merasa seperti itu...

Semakin aku coba keluar dari sunyi ini,semakin dalam aku larut dalam senyap yang nyata nyata hanya sebuah imaji. Semakin aku berontak,maka kian berjaraklah aku dari “dunia”.
Jadi aku putuskan untuk menikmati jarak ini,Dia beri sejengkal,aku nikamati itu,Dia beri semeter aku nikmati itu,bahkan jika Dia beri aku 1 mil,aku akan tetap nikmati itu. Karena memang tak ada pilihan di depan mata.

Perlahan langkah kami ke puncak semakin dekat. Dan percaya gak percaya,perasaanku mulai terurai. Sedikit demi sedikit bebanku mulai menguap,jadi satu dengan udara segar Rinjani. Bersenyawa dengan angin,lalu hilang entah kemana.Ini benar benar terjadi. 

Hingga di satu titik,kaki ini berhenti. Puncak Rinjani telah terjamah oleh kaki . Aku Cuma tersenyum,dengan perasaan yang benar benar kosong. Apa yang menjadi bebanku,seolah memudar,tercecer sepanjang langkah aku menapaki butiran tanah kering ini. Semua hilang begitu saja. Benar benar hilang.

Aku mematung beberapa saat,takjub pada lukisan Tuhan.

Mereka yang berangkat bersama aku tadi mulai meluapkan ekspresinya.
Ada yang tertawa puas,ada yang menangis. Ada yang duduk lemas,kelelahan. Ada yang rebahan,ada juga yang sibuk sendiri potret kanan,potret kiri. 
Dan aku,aku cuma senyum.
Aku merasa kecil,cuma sebuah titik...

Kesadaran kesadaran kecil mengunci sendiku. Sesaat merasakan nyeri yang teramat. Luka luka yang aku bawa tadi membuka lagi,berdarah. Anyir merebak ke semua penjuru.
Lalu pelan pelan memudar..
luka ini pun pelan pelan tertutup sendiri,sembuh secara ajaib.

Hembb,,satu hal lagi yang di ajarkan Rinjani..

Titik tertinggi seorang manusia berimpit selalu dengan titik terendahnya...,
Jadi tak seorang pun akan bisa mencapai puncaknya..

(Itu yang kita sebut dengan kepuasan...)

Rabu, 02 Februari 2011

hai tuan,apa kamu bahagia?

Tiba tiba kepikiran sama secercah cerita yang pernah aku tinggalkan. Apa kamu bahagia?. Aku mengutak-atik page mu, meng update beberapa foto dan tulisanmu. Kamu belum berubah. Masih sama seperti pertama kali aku tinggalkan. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Aku lega. Hahaha. 

Aku tertawa sendiri dalam hati, ah sudah lama sekali semua itu berlalu. Hampir 2 tahun, dan rasaku sepertinya masih sama birunya dengan yang dulu. Entah siklus hatiku yang memang lambat mensekresi kenangan, atau kenangan itu memang terlalu menyenangkan untuk dihapus. Yang mana saja bisa jadi jawaban. (yang mana aja boleh) haha.

Aku masih terus mengutak-atik pagemu berharap ada satu dua tulisan mu yang bisa menggambarkan secara jelas kondisimu. Kondisi hatimu. Apa kamu bahagia?. satu persatu aku baca, seperti biasa, tulisanmu selalu bias. Tak pernah terbaca apa yang ingin kamu tuangkan. Masih selalu ambigu. Ah, aku tertawa lagi. Aku masih hafal dengan gaya bahasamu, masih lekat dengan kosa katamu. Rasanya dulu sudah menjadi satu, atau mendadak aku yang menjelma jadi kamu. Aku merasa masih sangat mengenal kamu. haha. tersikap aku, dan itu semua sudah lama sekali.

older post, aku sudah klik beberapa kali. Akhirnya kudapati tulisanmu yang penuh dengan emosi. haha. harusnya aku lega, tapi yang terjadi aku malah sedikit nelangsa. Aku membaca berkali kali tulisanmu itu, berharap ada satu dua huruf yang keliru, atau mungkin kamu bermaksud membuat ambigu. Tapi dibaca berulangpun, maknanya tak pernah berganti. Aku tidak akan salah mengartikan untuk kali ini. Mungkin sudah berlalu sekian lama, tapi aku dan kamu tidak pernah beralih dari pijak kita. Hanya saja ruang dan waktu yang beda. Apa yang terbaca di otak masih selalu sama. dan aku masih sangat mengenal kamu. Kamu tidak bahagia.

Aku nelangsa. Tak bisa kamu bayangkan betapa nelangsanya aku. Betapa ada yang berdarah di dalam, tapi bahkan untuk sekedar di balur saja tak bisa, karena letaknya di dalam. Satu dua detik, aku merasakan sesak yang teramat. Aku menyesal membiarkan kamu pergi bersama dia. 2 tahun yang lalu, dengan segenap hati yang aku paksa kuat, aku meletakan kamu dalam peluknya. dengan harapan agar kamu bahagia. Aku terseok, hampir mati terkapar, lari melewati setiap ruas kehidupan, menjauh. Menyiksa batin karena berulang kali menutup mata, memalingkan wajah dari kamu. Dan semua hanya seperti ini?.Kamu tidak bahagia.

Bagaimana harus kupertanggung jawabkan kepergianku itu hai tuan?

Selasa, 01 Februari 2011

Penyangkalan

Aku tidak merindukanmu, tidak sama sekali. Tapi sekujur tubuhku meronta mencari kehangatan yang raib sejak kamu melangkah pergi. 

Aku tidak merindukanmu, sedikitpun tidak. Tapi seisi nyawa mencari selaksa aroma yang sempat memenuhi paru-paruku sore itu. ketika kamu mengajak aku menentang pancaran.

Aku tidak merindukanmu, Sumpah, tidak. Hanya saja, separuh malam aku habiskan untuk menangis mengenangmu, sisanya aku terlelap memimpikanmu.

Aku tidak merindukanmu, tidak sama sekali, tidak!. Tapi setiap jengkal sukma mendamba belaimu.

Hahaha, lalu sebaiknya aku beri nama apa perasaanku ini??

Cerita cinta semester pertama ^^

Lagi lagi masalah cinta.Hahaha, ^^
Rasanya seisi blog ini membicarakan tentang cinta.Hahaha
ya gimana lagi dong, memang itulah yang masih selalu berputar diantara rutinitas saya setiap harinya. All about love love and love. Oh meeeeen!!!!!!!=.='
Kali ini tentang sesosok manusia yang aku panggil SPEKTRUM. kenapa spektrum? karena buatku dia besinar, mengeluarkan pancaran hangat dan selaksa keindahan (cekirprit). Aku panggil dia spektrum karena pada hakikatnya keberadaanya memang layaknya bias sinar. Dia ada, indah, menerangi, mungkin menghangatkan tapi sebenarnya hanya sekedar ilusi, semu. Dia tampak dekat, seolah tanganku bisa selalu meraihnya dengan mudah. Tapi sebenarnya tiap kali aku menengadahkan tangan, berusaha menapaki kehangatanya, dia menghilang. Seperti spektrum yang terbentuk di ruang udara. Kosong. (ahhhh sedih banget sih,,)
Ini bukan tentang penantian, bukan juga tentang pengharapan, apalagi tentang kesedihan yang menye menye. Sebaliknya ini adalah sebuah kisah bahagia tentang cinta yang tak pernah bersandar pada empunya. hahaha.
kalau ada pepatah, cinta tak harus memiliki, ternyata itu benar. Ya walapun kedengaran klise dan sedikit munafik. (sedikit???=.='). Karena pada dasarnya cinta adalah substansi yang membahagiakan. Yang namanya cinta adalah suatu kumpulan emosi yang terjadi akibat kontak dengan lingkungan sekitarnya. Sebuah rangkaian pemikiran yang merajuk pada kebahagian. Tahu apa artinya??(apa emang??) bahwa ukuran bahagia dalam mencintai adalah sebuah subjektivitas. Tergantung pada masing masing pribadi. Ukuran bahagia bagi anda dan saya tottaly different.
Ini sekelumit kisah yang terjadi dalam hidup saya, dan bagi saya ini sudah cukup membahagiakan.
Kisahnya dimulai saat saya mulai duduk di bangku perguruan tinggi. (yg spp nya mahal gak kira kira). Entah itu sudah hari ke berapa. Yang pasti itu hari jum'at. Saya berkenalan dengan seorang kakak kelas, yang seterusnya akan saya panggil spektrum. Perkenalan yang lucu. Saat semua orang besalaman dan menyebutkan nama masing masing. kami berdua hanya berjabat tangan lalu saling menunggu untuk menyebutkan nama. Sampai akhirnya dia mengerenyitkan dahi, membuat aku sedikit tersentak, lalu berseloroh ringan sambil tertawa. Semua berawal dari sana. Dari situ kami mulai berbincang atau mungkin lebih enak disebut berdialog. Kedekatan kami terjalin begitu saja,seperti air yang memang selalu mengiku alur sungai. Kami pun demikian, seperti sudah ada alur yang menggariskan kami untuk bertemu dan berpisah di percabangan selanjutnya.
sebentar,memang hanya sebentar. Tapi itu sudah cukup membuatku mampu berdiri tegak. (sok banget)
karena aku punya ribuan kenangan yang masih rapi tersusun dalam memory ku. Tentang kami, tentang aku dan spektrum. Aku sempat memiliki waktunya, membunuh malam berdua, merasa diperhatikan. Aku pernah melewatkan ribuan detik kebersamaan, pernah menyentuh kulit tipis putih yang membalut tulang tulang angkuhnya, melihat apa di balik topeng tawa itu, (kami selalu menyebut kepalsuan sebagai sebuah topeng majemuk), aku pernah melewatkan banyak obrolan manis dan kenyamanan magis. aku pernah.Hahaha. Aku masih ingat aroma yang memenuhi rongga paru paruku sore itu, ketika spektrum membawaku menentang pancaran. Bahkan setiap detil aroma rokok dan kopi yang menempel di tubuhnya. Masih lekat semua di ingatanku. Itu semua yang membuat aku berdiri, masih bisa berdiri. =D
mungkin Spektrum akan selamanya menjadi spektrum buatku. Masih akan selalu jadi sebuah impian dan bias cahaya sehabis hujan. Raganya mungkin memang tak ada di sekitarku, hatinya pun sudah terbawa ke kota seberang tempat sang nona berdiam. Tapi kenangan tentang spektrum,kenangan tentang dia tidak akan pergi kemana mana. Akan tetap selalu menjadi miliku dan hanya jadi miliku sendiri. 
seharusnya aku melupakan sosok itu. Oknum yang telah menyeruak masuk dan menerobos keluar hatiku sesuka hatinya, seolah hanya dia yang punya rasa. tapi aku tidak ingin melakukanya. Bagiku spektrum itu, dan akan selalu indah. Jadi akan aku kenang dengan cara yang indah juga. Dan tentu saja bukan dengan jalan membencinya. =D
My guardian spectrum. An Angel into the rain.