Mungkin lebih baik jika jauh dan berjarak.
Haha,bagaiamana mungkin penggalan kalimat itu menjadi
pilihan terakhir buatku?, buatku yang terang-terangan merasa teramat nyaman di
sebelah kamu.
Aku adalah satu dari sekian banyak manusia yang merasa
terlalu bodoh dan munafik jika harus menyia-nyiakan rasa yang terlanjur
berkembang biak.
Cuma,hanya saja,tapi,,,,,,,,
Kali ini kasusnya beda. Sedikit berbeda dari yang biasanya. Haha,
sebenarnya aku sudah mengalami hal semacam ini beberapa kali. Makanya aku
bilang hanya sedikit berbeda. Beda individu yang menjadi subjek ceritanya.
Mungkin lebih baik harus menjadi jauh dan berjarak.
Aku sendiri masih sanksi dengan penggalan kalimat yang baru
saja terlintas dalam benak ku.
Kenapa aku harus memutuskan untuk sendiri?,kenapa aku harus
memutuskan untuk berjarak. Padahal jelas ketara bahwa aku merasa sangat amat
nyaman dengan keberadaan mu.
Karena ,mungkin aku hanya akan menyodorkan hati untuk
dipatahkan.
Karena mungkin aku hanya sedang berfantasi dengan dunia
mimpiku sendiri.
Dan karena kamu memang harus kembali pada tempatmu yang
seharusnya.
Aku bukan orang yang akan dengan serta merta merelakan rasa.
Bukan tipikal manusia yang mampu mentolerir debar-debar yang terlanjur
menggelegar. Tapi kali ini,harus.
Karena mungkin aku hanya akan menyodorkan hati untuk di
patahkan
Karena mungkin aku hanya sedan berfantasi dengan dunia
mimpiku.
Dan karena kamu memang harus kembali ke tempatmu yang
seharusnya.
Tuuuuuut,tuuuuut, itu suara terakhir yang mampu aku ingat .
Dan secara harfiah. Itu memang kali terakhir percakapan
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar