halimun pekat turun menyapu tanah, menyisakan sedikit remang dalam radar mata.
halimun itu adalah segala cerita dengan kumpulan frasa friksi nya, sementara tanah yang dinapakinya adalah bumi, dan remang yang tersisa adalah aku dalam pengetahuan ku yang serba terbatas.
seperti itulah kiranya aku dalam imajiku sendiri. malam pekat dengan paparan kabut lekat, dan hanya mampu memandang sedikit remang yang entah apa.
sekalipun hidup bukan lagi bermodalkan lembaran koran, kertas tipis penuh ketikan. sudah beralih pada media yang serba bergerak, dinamis. nyatanya aku hanya mahluk yang statis. diam di satu titik dengan pengetahuan yang ala kadarnya.
bukanya ini hal yang menyedihkan?
jelas ini menyedihkan. dalam segi apapun, dipandang dalam cara dan sudut apapun ini benar-benar menyedihkan. bagaimana anak adam yang hidup dalam era lampu neon masih berkutat dengan pekatnya kabut.
astaganagaaa, apa kata dunia?
tapi itulah aku dalam keterbatasan pengetahuan ku.