Tiba tiba kepikiran sama secercah cerita yang pernah aku tinggalkan. Apa kamu bahagia?. Aku mengutak-atik page mu, meng update beberapa foto dan tulisanmu. Kamu belum berubah. Masih sama seperti pertama kali aku tinggalkan. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Aku lega. Hahaha.
Aku tertawa sendiri dalam hati, ah sudah lama sekali semua itu berlalu. Hampir 2 tahun, dan rasaku sepertinya masih sama birunya dengan yang dulu. Entah siklus hatiku yang memang lambat mensekresi kenangan, atau kenangan itu memang terlalu menyenangkan untuk dihapus. Yang mana saja bisa jadi jawaban. (yang mana aja boleh) haha.
Aku masih terus mengutak-atik pagemu berharap ada satu dua tulisan mu yang bisa menggambarkan secara jelas kondisimu. Kondisi hatimu. Apa kamu bahagia?. satu persatu aku baca, seperti biasa, tulisanmu selalu bias. Tak pernah terbaca apa yang ingin kamu tuangkan. Masih selalu ambigu. Ah, aku tertawa lagi. Aku masih hafal dengan gaya bahasamu, masih lekat dengan kosa katamu. Rasanya dulu sudah menjadi satu, atau mendadak aku yang menjelma jadi kamu. Aku merasa masih sangat mengenal kamu. haha. tersikap aku, dan itu semua sudah lama sekali.
older post, aku sudah klik beberapa kali. Akhirnya kudapati tulisanmu yang penuh dengan emosi. haha. harusnya aku lega, tapi yang terjadi aku malah sedikit nelangsa. Aku membaca berkali kali tulisanmu itu, berharap ada satu dua huruf yang keliru, atau mungkin kamu bermaksud membuat ambigu. Tapi dibaca berulangpun, maknanya tak pernah berganti. Aku tidak akan salah mengartikan untuk kali ini. Mungkin sudah berlalu sekian lama, tapi aku dan kamu tidak pernah beralih dari pijak kita. Hanya saja ruang dan waktu yang beda. Apa yang terbaca di otak masih selalu sama. dan aku masih sangat mengenal kamu. Kamu tidak bahagia.
Aku nelangsa. Tak bisa kamu bayangkan betapa nelangsanya aku. Betapa ada yang berdarah di dalam, tapi bahkan untuk sekedar di balur saja tak bisa, karena letaknya di dalam. Satu dua detik, aku merasakan sesak yang teramat. Aku menyesal membiarkan kamu pergi bersama dia. 2 tahun yang lalu, dengan segenap hati yang aku paksa kuat, aku meletakan kamu dalam peluknya. dengan harapan agar kamu bahagia. Aku terseok, hampir mati terkapar, lari melewati setiap ruas kehidupan, menjauh. Menyiksa batin karena berulang kali menutup mata, memalingkan wajah dari kamu. Dan semua hanya seperti ini?.Kamu tidak bahagia.
Bagaimana harus kupertanggung jawabkan kepergianku itu hai tuan?