Selasa, 08 Februari 2011

=D

Aku bahagia dan tertawa karena hal hal sederhana. Mudah saja membuatku tertawa, cukup dengan menjadi kamu apa adanya. Mudah sekali membuat aku bahagia, cukup dengan menjadi kamu apa adanya. Karena adanya kamu dan dengan apa adanya kamu itu,membahagiakan. =D

Aku bisa tertawa seharian jika bersama kamu, bukan karena kamu berusaha melucu atau melebih lebihkan sesuatu. Justru karena kamu jujur dalam berlaku. Justru karena kamu hanya menjadi apa adanya kamu. Kamu istimewa dalam sederhana. Kamu sederhana makanya terlihat istimewa. ^^

Aku bahagia karena hal hal sederhana, makanya aku bahagia karena kamu.

Kita semua berada dalam satu naungan, yang kita namakan teman. Kita berada dalam sebuah ikatan yang kita sebut teman. kita terikat dalam satu hubungan, dan kita sebut itu teman.

Hanya hubungan sederhana, tentang saling menyayangi dan menghormati.=D.hanya hubungan sederhana, tapi membuat kita tertawa dan bahagia selalu,

Sabtu, 05 Februari 2011

untitled

Di sini sebuah dialog antar hati terjadi,

“Kamu itu mulai suka sama dia, kamu tahu itu. Kamu mulai terbiasa sama kehadiran dia.Dia jadi sebuah rutinitas buat kamu. Kamu tahu itu salah tapi kamu terus jalan maju, apa mau mu?”
Sepihak hati mulai menghakimi.

“Ngawur, bilang apa kamu itu? Aku gak mungkin suka sama dia, dia terlalu berharga untuk sekedar jadi seorang pacar. Dia terlalu berharga. Langka, jarang aku ketemu orang yang sejalan dengan pemikiran-pemikiran gilaku. Bahkan nyaris gak pernah, dan dia terlalu berharga untuk sekedar disayangi sebatas pacar. Aku gak akan rela. Gak akan pernah rela.”
Hatiku yang lain mulai membentuk pembelaan diri.

“Munafik! Aku ini hatimu, aku tahu apa yang kamu rasakan. Perasaan ini, perasaan ini apa namanya itu kalau bukan sayang? Kamu ketagihan sama smsnya, ketagihan telponnya. Apa itu namanya kalau bukan sayang? Kamu itu gak jelas, ambigu! Tempatkan dia sesuai porsinya! Kamu mau kasih dia tempat macam apa di dalamku?
Hatiku yang sisi ini memang tak pernah bersahabat.

“Aku gak munafik, dan jangan pernah bilang kayak gitu lagi! Kamu tahu dengan jelas aku sayang dia, sayang sebagai apa. Sayang yang seperti apa. Kamu tahu itu dengan jelas. Seharusnya kamu juga ingat, dia punya orang lain yang butuh dia disana. Buat dia jaga, dan kamu harus inget dia sayang sama orang itu. Dan aku, aku nempatin dia jauh di atas kata pacar. Jauh lebih penting ketimbang pacar. Jadi jangan pojokkan aku dengan pemikiran-pemikiran bodoh macam itu.”
Akhirnya, meledak juga perasaan itu.

“Lalu aku harus bilang apa? Apa namanya itu? Kamu itu ambigu. Kalau emang gak suka kenapa sok perhatian gitu?”
Dan sisi lain diriku masih belum puas mencerca, mencari-cari keterangan tentang ini semua.

“Aku gak sok perhatian, itu murni karena saya peduli. Bukan sok cari muka atau apa. Ini memang wujud kepedulianku. Jangan selalu di salah artikan setiap perhatianku itu sebuah rasa suka. Ini lebih dari sekedar suka, ini sayang. Tapi kamu harus inget! Ini bukan sayang yang seperti itu. Bukan sayang yang ingin dia ada terus, bukan ingin jadi pacar atau apa. Ini murni sayang yang tulus. Gak bersyrat. Ini sayang sebagai seorang apa ya? Teman yang benar-benar saya harapkan. Ngerti gak si? Cukup lama aku harus mendem-mendem apa yang nge-grundel disini, terus aku ketemu orang yang bisa dengan gampang menerima semua pemikiran saya. Dan bahkan meng- amini semua itu. Lebih dari sebuah kata teman, di atas kata pacar. Entah apalah itu”
Sebuah penjelasan yang di harapkan akhirnya meluncur begitu saja.

“Terus harus aku sebut perasaan mu ini apa”
Masih belum puas mencerca penjelasan.

“Jangan sebut apapun. Biarin aja! Gak usah di kotak-kotakkan aku sudah terlalu enjoy dengan ini semua.”
Aku putuskan untuk menggantung akhir dari monolog ini.

“Kita lihat, sampai kapan kamu mau bertahan dengan sisi hati yang itu.”
Sisi hati ku yang ini akhirnya melancarkan sebuah tantangan.

“Silahkan”
Sementara hatiku di bagian yang lain, menerima dengan senyum puas.

Dan monolog hatiku tak pernah bertemu sebuah titik temu. Mereka selalu sampai pada persimpangan. Sementara aku cuma bisa menahan semua. Jadi saksi bisu sekaligus sie sarana prasarana, menyediakan tempat mereka untuk berdebat.
Lalu semua pertentangan itu merangsak masuk ke dalam alam bawah sadarku, meminta dengan sangat untuk dilupakan. Sayangnya, siklus hati justru mementahkan semuanya dengan memutarkan sebuah film pendek yang berkelebat begitu saja di otakku ketika aku terpejam. Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Menahan semua gelombang amarah yang siap meledak dan menerjang apapun di sekitarnya jika nanti bisa menampakan wujudnya. Ini amarah sudah membabi buta, mendobrak pintu hati, merusak ruang ruang sempit di dalamnya. Hati ini sudah cukup sempit dan sekarang kian berantakan.
ARGH!! Harus apa lagi?

Dan di sinilah fase Rizal bagus bekerja. Mulai mencoba menyelesaikan semua kemelut itu.
Seruas demi seruas pemikiran mulai disederhanakan. Sedikit demi sedikit benang kusut direntangkan. Entah kapan semua akan jadi benar benar mudah untuk dijalani, yang jelas ini sudah pada tahapan benar, menurut saya.

Fase rizal bagus, apa sih fase rizal bagus itu? Rizal bagus adalah sebuah tahapan. Suatu proses pendewasaan diri. Sebuah proses dimana terjadi penyederhanaan pemikiran tentang yang salah dan benar. Rizal bagus adalah suatu pola pandang khas anak manusia yang membedakan suatu masalah hanya dengan “iya” dan “tidak”. Rizal bagus adalah sebuah pola pemikiran ekstrem, di atas normal tentang hakikat kehidupan, dan Rizal bagus adalah suatu proses klasifikasi yang merumuskan masalah, murni, berdasar logika dan hati. Yang walaupun tersakiti, masih mampu dengan enteng berkata, ”Peduli apa kamu, toh saya yang sayang”. Itulah rizal bagus.
Katakanlah, Rizal Bagus sebagai suatu titik balik dalam kehidupan saya. Ya, itu memang benar. Sebuah gambaran nyata, sebuah realisasi dari pemikiran pemikiran saya, yang tersimpan rapat jauh di alam bawah sadar saya. 
Sengaja memang saya simpan semua ide dan gagasan gila itu di sana, karena selama ini lingkungan saya menganggap semua itu terlalu gila. FREAK. Aneh.
Tapi semua pemikiran itu mendadak memaksa keluar, ketika sebuah stimulus lembut menyentuh ujung pikir saya, ketika seorang Rizal bagus datang.

Monolog hari itu “berakhir” dengan sebuah tanda tanya dan senyuman di bibir ku.^^

(“berakhir”, karena kenyataanya semua masih belum benar benar selesai.)

Puncak Rinjani di akhir Januari

Kemarin saya naik ke Rinjani dengan sejuta beban
(yaiya lah,secara ransel segambreng gambreng nyangkut di pundakku,,-.-)

Aku kemarin naik dengan banyak pertanyaan dan hari ini aku turun dengan sebuah jawaban. 
Satu jawaban yang merangkum semua penjelasan.^^

Mereka yang naik ke Rinjani bareng aku kemarin,mereka masing masing punya tujuan yang beda...

Ada yang emang ambisi untuk menaklukan puncak Rinjani..
Ada yang ikut,cuman buat jaga gengsi,semacem pembuktian diri gitu dah,,,
ada juga yang terpaksa ikut...
(wkakkakk...sori mas,,,yg penting gak sebut merk kan...)
Ada juga yang murni anak gunung,yang emang doyan ama yang beginian...
Ada lagi yang naik ke Rinjani,karena lagi desperate..,
Nyari pencerahan,,
ada juga yang kayak aku...
Have no point to reach,, I have no reason,,,
Hhe,,

Menganut prinsip BHINEKA TUNGGAL IKA,,kami berangkat ke Rinjani tanpa peduli,apa sebenernya yang jadi tujuan dari masing masing. Yang penting,kita semua bisa sampai di puncak dengan selamat, secepatnya...

Di sini suasananya bener bener beda. Banyak pohon,banyak suara,banyak pendaki lain (maklum liburan). Di sini rame banget. Tapi di saat yang sama aku merasa hilang. Sendiri.
Aku merasa di lontarkan karet kosmik,ke satu dimensi lain. Dimana aku harus bisa bertahan di atas kaki ku sendiri. Dimana aku harus bisa mencapai sesuatu dengan dayaku sendiri. 
Ya aku merasa benar benar sendiri.

Dan jujur aku benci merasa seperti itu...

Semakin aku coba keluar dari sunyi ini,semakin dalam aku larut dalam senyap yang nyata nyata hanya sebuah imaji. Semakin aku berontak,maka kian berjaraklah aku dari “dunia”.
Jadi aku putuskan untuk menikmati jarak ini,Dia beri sejengkal,aku nikamati itu,Dia beri semeter aku nikmati itu,bahkan jika Dia beri aku 1 mil,aku akan tetap nikmati itu. Karena memang tak ada pilihan di depan mata.

Perlahan langkah kami ke puncak semakin dekat. Dan percaya gak percaya,perasaanku mulai terurai. Sedikit demi sedikit bebanku mulai menguap,jadi satu dengan udara segar Rinjani. Bersenyawa dengan angin,lalu hilang entah kemana.Ini benar benar terjadi. 

Hingga di satu titik,kaki ini berhenti. Puncak Rinjani telah terjamah oleh kaki . Aku Cuma tersenyum,dengan perasaan yang benar benar kosong. Apa yang menjadi bebanku,seolah memudar,tercecer sepanjang langkah aku menapaki butiran tanah kering ini. Semua hilang begitu saja. Benar benar hilang.

Aku mematung beberapa saat,takjub pada lukisan Tuhan.

Mereka yang berangkat bersama aku tadi mulai meluapkan ekspresinya.
Ada yang tertawa puas,ada yang menangis. Ada yang duduk lemas,kelelahan. Ada yang rebahan,ada juga yang sibuk sendiri potret kanan,potret kiri. 
Dan aku,aku cuma senyum.
Aku merasa kecil,cuma sebuah titik...

Kesadaran kesadaran kecil mengunci sendiku. Sesaat merasakan nyeri yang teramat. Luka luka yang aku bawa tadi membuka lagi,berdarah. Anyir merebak ke semua penjuru.
Lalu pelan pelan memudar..
luka ini pun pelan pelan tertutup sendiri,sembuh secara ajaib.

Hembb,,satu hal lagi yang di ajarkan Rinjani..

Titik tertinggi seorang manusia berimpit selalu dengan titik terendahnya...,
Jadi tak seorang pun akan bisa mencapai puncaknya..

(Itu yang kita sebut dengan kepuasan...)

Rabu, 02 Februari 2011

hai tuan,apa kamu bahagia?

Tiba tiba kepikiran sama secercah cerita yang pernah aku tinggalkan. Apa kamu bahagia?. Aku mengutak-atik page mu, meng update beberapa foto dan tulisanmu. Kamu belum berubah. Masih sama seperti pertama kali aku tinggalkan. Tanpa sadar, aku tersenyum kecil. Aku lega. Hahaha. 

Aku tertawa sendiri dalam hati, ah sudah lama sekali semua itu berlalu. Hampir 2 tahun, dan rasaku sepertinya masih sama birunya dengan yang dulu. Entah siklus hatiku yang memang lambat mensekresi kenangan, atau kenangan itu memang terlalu menyenangkan untuk dihapus. Yang mana saja bisa jadi jawaban. (yang mana aja boleh) haha.

Aku masih terus mengutak-atik pagemu berharap ada satu dua tulisan mu yang bisa menggambarkan secara jelas kondisimu. Kondisi hatimu. Apa kamu bahagia?. satu persatu aku baca, seperti biasa, tulisanmu selalu bias. Tak pernah terbaca apa yang ingin kamu tuangkan. Masih selalu ambigu. Ah, aku tertawa lagi. Aku masih hafal dengan gaya bahasamu, masih lekat dengan kosa katamu. Rasanya dulu sudah menjadi satu, atau mendadak aku yang menjelma jadi kamu. Aku merasa masih sangat mengenal kamu. haha. tersikap aku, dan itu semua sudah lama sekali.

older post, aku sudah klik beberapa kali. Akhirnya kudapati tulisanmu yang penuh dengan emosi. haha. harusnya aku lega, tapi yang terjadi aku malah sedikit nelangsa. Aku membaca berkali kali tulisanmu itu, berharap ada satu dua huruf yang keliru, atau mungkin kamu bermaksud membuat ambigu. Tapi dibaca berulangpun, maknanya tak pernah berganti. Aku tidak akan salah mengartikan untuk kali ini. Mungkin sudah berlalu sekian lama, tapi aku dan kamu tidak pernah beralih dari pijak kita. Hanya saja ruang dan waktu yang beda. Apa yang terbaca di otak masih selalu sama. dan aku masih sangat mengenal kamu. Kamu tidak bahagia.

Aku nelangsa. Tak bisa kamu bayangkan betapa nelangsanya aku. Betapa ada yang berdarah di dalam, tapi bahkan untuk sekedar di balur saja tak bisa, karena letaknya di dalam. Satu dua detik, aku merasakan sesak yang teramat. Aku menyesal membiarkan kamu pergi bersama dia. 2 tahun yang lalu, dengan segenap hati yang aku paksa kuat, aku meletakan kamu dalam peluknya. dengan harapan agar kamu bahagia. Aku terseok, hampir mati terkapar, lari melewati setiap ruas kehidupan, menjauh. Menyiksa batin karena berulang kali menutup mata, memalingkan wajah dari kamu. Dan semua hanya seperti ini?.Kamu tidak bahagia.

Bagaimana harus kupertanggung jawabkan kepergianku itu hai tuan?

Selasa, 01 Februari 2011

Penyangkalan

Aku tidak merindukanmu, tidak sama sekali. Tapi sekujur tubuhku meronta mencari kehangatan yang raib sejak kamu melangkah pergi. 

Aku tidak merindukanmu, sedikitpun tidak. Tapi seisi nyawa mencari selaksa aroma yang sempat memenuhi paru-paruku sore itu. ketika kamu mengajak aku menentang pancaran.

Aku tidak merindukanmu, Sumpah, tidak. Hanya saja, separuh malam aku habiskan untuk menangis mengenangmu, sisanya aku terlelap memimpikanmu.

Aku tidak merindukanmu, tidak sama sekali, tidak!. Tapi setiap jengkal sukma mendamba belaimu.

Hahaha, lalu sebaiknya aku beri nama apa perasaanku ini??

Cerita cinta semester pertama ^^

Lagi lagi masalah cinta.Hahaha, ^^
Rasanya seisi blog ini membicarakan tentang cinta.Hahaha
ya gimana lagi dong, memang itulah yang masih selalu berputar diantara rutinitas saya setiap harinya. All about love love and love. Oh meeeeen!!!!!!!=.='
Kali ini tentang sesosok manusia yang aku panggil SPEKTRUM. kenapa spektrum? karena buatku dia besinar, mengeluarkan pancaran hangat dan selaksa keindahan (cekirprit). Aku panggil dia spektrum karena pada hakikatnya keberadaanya memang layaknya bias sinar. Dia ada, indah, menerangi, mungkin menghangatkan tapi sebenarnya hanya sekedar ilusi, semu. Dia tampak dekat, seolah tanganku bisa selalu meraihnya dengan mudah. Tapi sebenarnya tiap kali aku menengadahkan tangan, berusaha menapaki kehangatanya, dia menghilang. Seperti spektrum yang terbentuk di ruang udara. Kosong. (ahhhh sedih banget sih,,)
Ini bukan tentang penantian, bukan juga tentang pengharapan, apalagi tentang kesedihan yang menye menye. Sebaliknya ini adalah sebuah kisah bahagia tentang cinta yang tak pernah bersandar pada empunya. hahaha.
kalau ada pepatah, cinta tak harus memiliki, ternyata itu benar. Ya walapun kedengaran klise dan sedikit munafik. (sedikit???=.='). Karena pada dasarnya cinta adalah substansi yang membahagiakan. Yang namanya cinta adalah suatu kumpulan emosi yang terjadi akibat kontak dengan lingkungan sekitarnya. Sebuah rangkaian pemikiran yang merajuk pada kebahagian. Tahu apa artinya??(apa emang??) bahwa ukuran bahagia dalam mencintai adalah sebuah subjektivitas. Tergantung pada masing masing pribadi. Ukuran bahagia bagi anda dan saya tottaly different.
Ini sekelumit kisah yang terjadi dalam hidup saya, dan bagi saya ini sudah cukup membahagiakan.
Kisahnya dimulai saat saya mulai duduk di bangku perguruan tinggi. (yg spp nya mahal gak kira kira). Entah itu sudah hari ke berapa. Yang pasti itu hari jum'at. Saya berkenalan dengan seorang kakak kelas, yang seterusnya akan saya panggil spektrum. Perkenalan yang lucu. Saat semua orang besalaman dan menyebutkan nama masing masing. kami berdua hanya berjabat tangan lalu saling menunggu untuk menyebutkan nama. Sampai akhirnya dia mengerenyitkan dahi, membuat aku sedikit tersentak, lalu berseloroh ringan sambil tertawa. Semua berawal dari sana. Dari situ kami mulai berbincang atau mungkin lebih enak disebut berdialog. Kedekatan kami terjalin begitu saja,seperti air yang memang selalu mengiku alur sungai. Kami pun demikian, seperti sudah ada alur yang menggariskan kami untuk bertemu dan berpisah di percabangan selanjutnya.
sebentar,memang hanya sebentar. Tapi itu sudah cukup membuatku mampu berdiri tegak. (sok banget)
karena aku punya ribuan kenangan yang masih rapi tersusun dalam memory ku. Tentang kami, tentang aku dan spektrum. Aku sempat memiliki waktunya, membunuh malam berdua, merasa diperhatikan. Aku pernah melewatkan ribuan detik kebersamaan, pernah menyentuh kulit tipis putih yang membalut tulang tulang angkuhnya, melihat apa di balik topeng tawa itu, (kami selalu menyebut kepalsuan sebagai sebuah topeng majemuk), aku pernah melewatkan banyak obrolan manis dan kenyamanan magis. aku pernah.Hahaha. Aku masih ingat aroma yang memenuhi rongga paru paruku sore itu, ketika spektrum membawaku menentang pancaran. Bahkan setiap detil aroma rokok dan kopi yang menempel di tubuhnya. Masih lekat semua di ingatanku. Itu semua yang membuat aku berdiri, masih bisa berdiri. =D
mungkin Spektrum akan selamanya menjadi spektrum buatku. Masih akan selalu jadi sebuah impian dan bias cahaya sehabis hujan. Raganya mungkin memang tak ada di sekitarku, hatinya pun sudah terbawa ke kota seberang tempat sang nona berdiam. Tapi kenangan tentang spektrum,kenangan tentang dia tidak akan pergi kemana mana. Akan tetap selalu menjadi miliku dan hanya jadi miliku sendiri. 
seharusnya aku melupakan sosok itu. Oknum yang telah menyeruak masuk dan menerobos keluar hatiku sesuka hatinya, seolah hanya dia yang punya rasa. tapi aku tidak ingin melakukanya. Bagiku spektrum itu, dan akan selalu indah. Jadi akan aku kenang dengan cara yang indah juga. Dan tentu saja bukan dengan jalan membencinya. =D
My guardian spectrum. An Angel into the rain.