tempatku pulang adalah kamu. setelah lelah,
setelah tak sedikitpun bau sabun tadi pagi menempel di kulit penuh peluh.
kamu adalah tempatku pulang,
setelah panas terik mengusutkan neuron-neoron dalam otaku.
kamu adalah tempatku pulang.
dan kamu,rumahku. mendadak menjadi yang paling asing dalam benak ku.
astaga aku merasa asing dengan tempatku berteduh?
tidak kah itu menyedihkan?.
aku merasa jauh dengan tempatku bernaung,
tidak kah itu sebuah ironi?
karena kamu adalah rumahku,karena kamu adalah tempatku jatuh dan bertahan.
kamu adalah keyakinan sekaligus keraguan, tempatku bertanya dan menemukan jawaban.
kamu adalah rumah. yang mendorongku berjalan dan meraih tanganku ketika berlari.
kamu harusnya yang paling dekat. sekalipun jauh.
kamu harusnya yang paling dekat. sekalipun jauh.
kamu harusnya yang paling dekat. sekalipun jauh.
Kamis, 28 Juli 2011
Jumat, 08 Juli 2011
sempurna
kamu adalah suatu konsep dari imaji ku. konsep tentang seorang lelaki sempurna. Bukan sebuah kesempurnaan dalam makna yang terlalu teoritis. bukan pula secara harfiah, yang memaknai sempurna dengan satu nilai penuh atau maksimal. kamu sempurna, menjadi sangaikt sempurna ketika mampu memenuhi apa yang aku butuhkan. kamu sempurna karena kamu memberikan apa yang kamu miliki utuh buatku. meskipun yang aku butuhkan cuma segelas air putih. dan yang kamu miliki memang cuma segelas air putih. kamu jadi sempurna karena itu.
tanpa aksara
Lama tidak bersua dengan rentetan kata dan makna, sepertinya mendadak aku jadi bisu. Bukanya tanpa suara, hanya saja belakangan ini aku terlalu sibuk menata realita dalam susunan terperinci yang aku sebut agenda. Sampai-sampai aku lupa mengoleksi aksara dan beragam cerita sbeperti yang aku lakukan di hampir sepanjag usiaku (tentunya setelah aku lancar membaca).
Aku, aku yang biasanya mensakralkan hampir semua peristiwa, mendadak lupa caranya bertutur cerita. Rasanya seperti tidak benar-benar nyata. ah, bagaimana harus aku nyatakan, bahwa belakangan aku hampa. berusaha menjadi orang yang logis, memaksaku menjadi seseorang yang benar-benar membosankan. Setiap harinya aku masih bergelut dengan bahasa, dengan kosa kata. tapi yang aku rangkai tak lagi sama, yang kutulis adalah analisi analisi bodoh tentang perekonomian dunia, atau nanti dilain kesempatan memberi komentar komentar idealis soal perkembangan globalisasi. Ah, itu semua sama sekali membosankan, di dunia yang hanya kenal berlari, dan berlari. belakangan aku di paksa jadi bagian dari rutinitas itu. tak ada lagi duduk berjam-jam di bawah pohon akasia, menikamati jatuhnya bunga. tak ada lagi berkendara dengan kecepatan hampir nol hanya untuk menikmati udara pagi. semua menjadi rutinitas "normal". ya "normal" dalam versi mereka semua, dan tidak bagiku.
aku adalah satu dari sekian banyak manusia, yang akan di cap bodoh oleh semua umat (mungkin). karena aku adalah manusia yang lebih memilih duduk berjam-jam di atas karang, di tepian laut, membiarkan semua tender lepas dari jangkauan. hanya untuk menikmati angin yang berderu mengibaskan rambutku,mendengar ombak memeluk pantainya mesra. karena aku adalah seorang manusia yang lebih memilih mematung berjam-jam di atas kawah putih, dan menikmati suasana paling sempurna.
aku merindukan hidup kala itu
Aku, aku yang biasanya mensakralkan hampir semua peristiwa, mendadak lupa caranya bertutur cerita. Rasanya seperti tidak benar-benar nyata. ah, bagaimana harus aku nyatakan, bahwa belakangan aku hampa. berusaha menjadi orang yang logis, memaksaku menjadi seseorang yang benar-benar membosankan. Setiap harinya aku masih bergelut dengan bahasa, dengan kosa kata. tapi yang aku rangkai tak lagi sama, yang kutulis adalah analisi analisi bodoh tentang perekonomian dunia, atau nanti dilain kesempatan memberi komentar komentar idealis soal perkembangan globalisasi. Ah, itu semua sama sekali membosankan, di dunia yang hanya kenal berlari, dan berlari. belakangan aku di paksa jadi bagian dari rutinitas itu. tak ada lagi duduk berjam-jam di bawah pohon akasia, menikamati jatuhnya bunga. tak ada lagi berkendara dengan kecepatan hampir nol hanya untuk menikmati udara pagi. semua menjadi rutinitas "normal". ya "normal" dalam versi mereka semua, dan tidak bagiku.
aku adalah satu dari sekian banyak manusia, yang akan di cap bodoh oleh semua umat (mungkin). karena aku adalah manusia yang lebih memilih duduk berjam-jam di atas karang, di tepian laut, membiarkan semua tender lepas dari jangkauan. hanya untuk menikmati angin yang berderu mengibaskan rambutku,mendengar ombak memeluk pantainya mesra. karena aku adalah seorang manusia yang lebih memilih mematung berjam-jam di atas kawah putih, dan menikmati suasana paling sempurna.
aku merindukan hidup kala itu
Langganan:
Postingan (Atom)