beberapa minggu yang lalu, aku ke rumah yang kung ku,hal yang sudah sangat amat jarang dan langka aku kerjakan dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun ini. untuk pertama kalinya setelah sekian lama,untuk waktu yang kami habiskan dengan berjalan di rute kami masing-masing, kami berdua duduk bercengkrama. seperti sepasang kawan lama yang telah rindu untuk berbagi kisah,berbagi cerita hidup. terakhir, dalam ingatanku aku berada sedekat ini dengan yang kung adalah ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. dan walaupun tanpa makna, saat itu kami berbincang layaknya 2 orang dewasa yang sedang membuat rancang biru suatu negara.
sama seperti masa itu,yangkung dengan setia mendengarkan setiap detil kata yang meluncur dari mulutku, setiap emosi,setiap tendensi kalimat. bedanya, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, kulitnya belum sebegini keriputnya,matanya masih awas memperhatikan celotehanku, dan duduknya tak sebegini bongkoknya. untuk sesaat yang hening, aku sadar bahwa lelaki di hadapanku ini telah kian rapuh, telah di makan usia sebegini banyaknya.
yangkung mulai menanggapi semua ide ide ku,pemikiran pemikiran yang terlalu idealis ala mahasiswa semester awal. masih sama seperti yang dulu, seberapa pun kalimat- kalimatku kacau,tak tersusun rapi. yangkung masih akan setia mendengarka,tertawa kecil tanpa menyela atau menyalahkan. beliau hanya duduk dan menunggu aku selesai meletup-letup tanpa sedikitpun memotong kata-kataku. belaiu masih sesosok laki-laki yang begitu sabar dan pengertian. meskipun di balut kulit kecoklatan yang kian keriput. beliau masih sosok yang begitu rendah hati dan penyayang.beliau yang hampir seumur hidupnya tak pernah ku saksikan mengeluh. tidak sedikitpun, meskipun di remehkan,di rendahkan atau di bohongi, sekalipun kecewa. sekalipun marah, tak pernah satu kalipun aku dengar beliau mengeluh.
beliau yang dengan penuh kasih membagi apa yang dipunya untuk anak-anaknya, sekalipun setelah itu, nyata aku lihat, beliau harus bernafas tersengal menyambung hidup. aku menyaksikan sendiri, ketika beliau mengeluarkan dompet coklat yang sama tua dengan usianya, dan hanya lembar 20000 terlipat yang tersisa. namun dengan suka cita, di belanjakan uang itu, hanya karena adik kecilku memohon sebuah boneka. aku cuma diam, cuma bisa diam.
(jadi kemana-mana,hehehe)
menaggapi semua ide gilaku,yangkung mulai angkat bicara.
dengan bahasanya yang begitu tertata apik,dengan nada suaranya yang memang selalu berwibawa,beliau mulai buka suara.
"dalam hidup ada 8 hal yang sebaiknya kita jalani,setidaknya. agar hidup menjadi seimbang,,
yang pertama take time to pray,lalu take time to read,yang ke tiga take time to play,yang ke empat take time to laugh,yang ke lima take time to gave, yang ke enam take time to loved and be loved, yang ke tujuh take time to share,dan yang terakhir take time to be friendly".
lantas beliau tersenyum,
menyadarkan aku dari idealisme menggebu gebu ku tadi. ada hal yang harus dan tidak harus menjadi bahan pemikiranku. ada hal yang harus dan tidak harus membebani neuron otaku.
ada yang penting dan belum menjadi penting.
ada yang hanya sebatas utopis,idealis dan ada juga yang harus di hadapi sebagai sebuah tantangan.sebagai kehidupan.
perbincangan aku dan yangkung,
membawa aku kembali berpijak pada molekul penyusunku, tanah. aku kembali menapak di bumi saetelah sekian lama terbang dalam rajutan imaji. dalam idelisme terlalu ideal.
hidup bukan soal aku dan kamu, aku dan mereka, atau aku dengan kalian.hidup bukan perkara "aku",mau"ku",atau menurut"ku".