Kemarin saya naik ke Rinjani dengan sejuta beban
(yaiya lah,secara ransel segambreng gambreng nyangkut di pundakku,,-.-)
Aku kemarin naik dengan banyak pertanyaan dan hari ini aku turun dengan sebuah jawaban.
Satu jawaban yang merangkum semua penjelasan.^^
Mereka yang naik ke Rinjani bareng aku kemarin,mereka masing masing punya tujuan yang beda...
Ada yang emang ambisi untuk menaklukan puncak Rinjani..
Ada yang ikut,cuman buat jaga gengsi,semacem pembuktian diri gitu dah,,,
ada juga yang terpaksa ikut...
(wkakkakk...sori mas,,,yg penting gak sebut merk kan...)
Ada juga yang murni anak gunung,yang emang doyan ama yang beginian...
Ada lagi yang naik ke Rinjani,karena lagi desperate..,
Nyari pencerahan,,
ada juga yang kayak aku...
Have no point to reach,, I have no reason,,,
Hhe,,
Menganut prinsip BHINEKA TUNGGAL IKA,,kami berangkat ke Rinjani tanpa peduli,apa sebenernya yang jadi tujuan dari masing masing. Yang penting,kita semua bisa sampai di puncak dengan selamat, secepatnya...
Di sini suasananya bener bener beda. Banyak pohon,banyak suara,banyak pendaki lain (maklum liburan). Di sini rame banget. Tapi di saat yang sama aku merasa hilang. Sendiri.
Aku merasa di lontarkan karet kosmik,ke satu dimensi lain. Dimana aku harus bisa bertahan di atas kaki ku sendiri. Dimana aku harus bisa mencapai sesuatu dengan dayaku sendiri.
Ya aku merasa benar benar sendiri.
Dan jujur aku benci merasa seperti itu...
Semakin aku coba keluar dari sunyi ini,semakin dalam aku larut dalam senyap yang nyata nyata hanya sebuah imaji. Semakin aku berontak,maka kian berjaraklah aku dari “dunia”.
Jadi aku putuskan untuk menikmati jarak ini,Dia beri sejengkal,aku nikamati itu,Dia beri semeter aku nikmati itu,bahkan jika Dia beri aku 1 mil,aku akan tetap nikmati itu. Karena memang tak ada pilihan di depan mata.
Perlahan langkah kami ke puncak semakin dekat. Dan percaya gak percaya,perasaanku mulai terurai. Sedikit demi sedikit bebanku mulai menguap,jadi satu dengan udara segar Rinjani. Bersenyawa dengan angin,lalu hilang entah kemana.Ini benar benar terjadi.
Hingga di satu titik,kaki ini berhenti. Puncak Rinjani telah terjamah oleh kaki . Aku Cuma tersenyum,dengan perasaan yang benar benar kosong. Apa yang menjadi bebanku,seolah memudar,tercecer sepanjang langkah aku menapaki butiran tanah kering ini. Semua hilang begitu saja. Benar benar hilang.
Aku mematung beberapa saat,takjub pada lukisan Tuhan.
Mereka yang berangkat bersama aku tadi mulai meluapkan ekspresinya.
Ada yang tertawa puas,ada yang menangis. Ada yang duduk lemas,kelelahan. Ada yang rebahan,ada juga yang sibuk sendiri potret kanan,potret kiri.
Dan aku,aku cuma senyum.
Aku merasa kecil,cuma sebuah titik...
Kesadaran kesadaran kecil mengunci sendiku. Sesaat merasakan nyeri yang teramat. Luka luka yang aku bawa tadi membuka lagi,berdarah. Anyir merebak ke semua penjuru.
Lalu pelan pelan memudar..
luka ini pun pelan pelan tertutup sendiri,sembuh secara ajaib.
Hembb,,satu hal lagi yang di ajarkan Rinjani..
Titik tertinggi seorang manusia berimpit selalu dengan titik terendahnya...,
Jadi tak seorang pun akan bisa mencapai puncaknya..
(Itu yang kita sebut dengan kepuasan...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar