Kamis, 17 November 2011

no idea,-.-


Entah hijau,entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwarna hijau,jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis.  Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat itu yang masih buka. Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandinga spak bola dini hari dari televise 14 inci dan kumandang lagu disko era satu decade silam serta kelap-kelip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.

Tinggal empat manusia yang tersisa. Dan dia satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan mahluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan.sementara aku tetap menyandang status “kenalan”,mereka sudah menjadi tiga serangkai-sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku tidak merasa rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukan pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.

Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak tahan lagi. Cuma aku yang tidak tergaggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.

Satu diantara mereka sampai berteriak kegirangan begitu sakelar lampu di padamkan. Yang tersisa tinggalah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantic. Aku tidak suka.

Tanpa sengaja dia menoleh kearahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Akupun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi disekatkan ke meja mereka. Dan dia mempersilahkan aku duduk. Dia, yang paling aku cari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.

Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk di situ,akan ku selundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikiranya,memata matai perasaanya. Cukup seperempat jiwaku yang berjaga di meja itu untuk tersenyum sopan,tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘ooooh’ atas percakapan apapun.

“kami sedang melakuka satu permainan”, dia menjelaskan. “bertukar pengalaman yang paling sedih”. Temanya menambahkan,”yang terpilih jadi juara akan mendapatkan ,,,ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh di geser ke pusat meja.

Cepat ku jelaskan bahwa ka tidak minum bir, sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapapun untuk melakukan apapun. Tidak boleh tidak. Ide itu disambut baik. Bkan ide bir sebagai hadia utama dilengserkan.

Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman,dan kisah bencana alam. Tiba giliranya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau,lalu cahaya besar. Namun pada saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring kma tetntu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahya entah apa, yang Cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern,menjadi manusia yang mengatasi cinta insane dan berjuang untuk menghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu. Tanpa menunggu harus koma atau ko’it.

Ketiga temanya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.

“giliran kamu” suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh kearahku,matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.

Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, kau teringat trotoar tempat kamu berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan. Aku teringat sluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini. Kau teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu denganya. Aku teringat kemana harus kembali setelah malam ini dan kemana ia pergi nanti.

Aku mulai berkisah, tentang sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibuya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang ibunya mampu beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu ada paha,dada atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.
Mereka semua senyap. Lurus memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebnayak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku menghela napas. Kisah ini terasa semakin membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang Cuma sanggup kuhayati bayanganya dan tak akan pernah kumiliki keutuhanya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit,awan dan hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain, ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki, saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidaklagi jadi piala dan mendadak terlihat sangat menarik.

Mereka semua berpadangan. Mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alcohol, bir ini menjadi lebih dashyat dari semua kisah sedih tadi.

Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku.kisahku dinobatkan menjadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang ku mau. Siapa dan melakukan apa.mereka begitu semangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkirim surat elektronik. Namun bukan itu saj ayang kucari. Aku hanya ingin kembali ketempatku. Di belakang sana.menikmati apa yang aku sanggup. Bukan di meja ini, buka di sebelahnya. Bukan bersentuhan dengan kakinya.

Malam itu sebagai hadiah kisah sedihku tenta cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang. Aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar menyalakan sakelar lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisis pergi ke tempat duduk ku semula. Supaya sekembalinya ia nanti,aku sudah kembali menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara.

Tempat ini kembali menjadi remang yang tidak romantic. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara,langit,sinar bulan atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.

Malang,2 november 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar