Aku sudah mencari. Rasanya semua toko di kota ini sudah aku kunjungi. Dari jenis toko kelontong di tepi jalan hingga pusat perbelanjaan sudah kuobrak-abrik. Dan lihatlah hasilnya sekarang, aku punya satu ruangan khusus yang kusebut sebagai laboratorium pewangi. Di sanalah aku menyimpan seluruh hasil perburuanku selama ini.
Tak perlu situasi khusus untuk menghadirkan segala hal tentangmu. Kamu, sudah seperti udara yang setiap tarikan nafas aku masukkan dalam paru-paru. Kamu, sudah seperti bayangan yang tak pernah jauh dariku. Kamu bukan hantu, meskipun kamu yang seperti udara dan bayangan itu adalah suatu benda abstrak. Tak bisa kusentuh seperti cahaya, meski spektrumnya begitu indah. Tak dapat kugenggam seperti air, walau alirannya begitu kuat.
Kita pernah berdebat tentang ketidakpastian, suatu konsep yang tak akan pernah terpisah dari kehidupan. Kita pun sering berdebat tentang Tuhan, zat maha mulia yang sesungguhnya tak layak diperdebatkan di warung kopi oleh orang-orang tak berilmu seperti kita. Dan begitu banyak hal remeh yang kita kupas selama berjam-jam. Teori-teori kuno yang barangkali akan langsung membuat lawan bicaraku tertidur jika saja bukan kamu.
Aku, anak manusia yang terpenjara, yang terkekang dengan segala macam peraturan dari A sampai Z, segera menemukan hidup bersamamu. Aku segera bisa merasakan hembusan angin, tetesan air, sinar matahari, dan tentu saja--yang tak pernah aku lupa--aroma pewangi pakaian yang selalu melekat pada sosokmu. Ternyata kamu yang berhasil memanusiakan aku.
Saat kamu mulai hadir dalam tiap detik waktuku, aku seperti memiliki beberapa kemampuan ekstra. Hidungku ternyata sangat sensitif terhadap aroma pewangimu. Tanganku tiba-tiba fasih benar menggambar lekuk wajahmu. Aku pun tak pernah kehabisan kata untuk menceritakanmu. Bahkan, terkadang aku merasa mulai berpikir dengan otakmu. Kamu menjadi virus paling ganas yang menghancurkan semua antibodiku. kemudian menginfeksi setiap sel dalam tubuhku.
Aku berburu pewangi pakaian juga karenamu. Bukannya aku takut kehilangan kenangan akan kamu, sungguh bukan karena itu. Bagaimana mungkin aku lupa menghirup udara? Bagaimana mungkin aku bisa mengusir bayanganku? Aku cuma ingin merasakanmu ada bukan hanya dalam alam bawah sadarku. Dan aku memilih pewangi untuk merepresentasikanmu.
Kita pernah memiliki matahari pagi. Dilatarbelakangi debur ombak dan hembus angin laut, kita seperti dua sosok manusia dalam sebuah lukisan dinding. Kadang kita bercerita panjang lebar, kadang mematung beberapa lama. Kamu saat itu begitu dekat. Cukup dekat hingga aku bisa melihat matamu yang berkaca-kaca ketika bercerita tentang kisah pedihmu. Begitu dekat sampai aku bisa mencium bau pewangi pakainmu bercampur bau rokok dari mulutmu. Hmmm, aku rindu...
Sepanjang perjalanan menjemput matahari pagi kita saat itu, kamu berceloteh tanpa henti. Menumpahkan segala rahasia yang kamu tutup rapat di balik topeng baja yang tak pernah lupa kamu pakai tiap saat. Kamu seperti seorang balita manja ketika bercerita tentang masa kecilmu. Kamu polos seperti bayi saat menceritakan kisah-kisah hidupmu. Kamu yang seperti itulah yang selalu ada bersamaku, menemaniku.
Saat sinar pertama matahari kita muncul, dengan naifnya kamu berteriak kegirangan. Persis seperti anak kecil tingkahmu. Aku sama sekali tidak keberatan dengan segala tingkah laku yang di luar batas normalmu itu.
Matahari kita terbit sangat pelan. Mengabadikan tiap momen yang disorotnya dari ujung kaki langit pagi itu. Dan kita seolah tak ingin menyia-nyiakan sedetikpun kebersamaan kita pada pagi buta itu.
Sudah cukup lama matahari kita terbenam dan terbit kembali. Dia tidak pernah lagi menjadi milik kita. Dia tidak lagi merekam sosok kita. Dia mungkin sedang mencari-cari kita sama seperti aku yang mencarimu. Dia barangkali mengharapkan kita menunggunya muncul di satu sudut bumi sama seperti aku yang mengharapkannya muncul membawamu padaku. Maka, dia aku lewatkan saja tiap hari.
Kini aku memiliki ribuan pewangi pakaian dalam laboratoriumku. Terdiri dari berbagai bentuk dan merk. Tersusun rapi tanpa pernah aku pakai. Semuanya punya aroma yang mirip dengan aroma pewangi pakaianmu. tapi tak satupun yang sama. Hanya mirip, tapi berbeda. Aku tak bisa menggambarkan dengan gamblang apa bedanya, tapi hatiku selalu bilang bahwa tak ada yang sama. Tak ada yang sama meskipun aku sudah mencari ke semua tempat.
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
(Hatiku Selembar Daun, Sapardi Djoko Damono)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar