Selasa, 03 Januari 2012

(no)HOPE


Mungkin ini kali terakhir aku menangis sebagai seorang manusia. Lalu besok aku akan berubah menjadi setan dalam wujud manusia. Menjadi robot dengan cover seperti manusia.atau mungkin menjadi boneka lilin seperti yang dipamerkan di museum museum itu.

Aku sama sekali tidak mengerti. Aku tidak sedang menyalahkan siapapun, maaf kalau sikapku membingungkan anda,dia,atau mereka. Dan maav jika tingkah lakuku menyakiti anda,dia,atau mereka. Aku sama sekali tidak bermaksud yang demikian. Aku sama sekali tidak bermaksud yang seperti itu.

Semua orang bilang aku yang salah, aku yang tidak mengerti. Ya aku rasa mereka benar.
aku rasa aku satu-satunya orang bodoh yang menolak kebahagiaan.
Aku pikir aku satu-satunya orang tolol yang menghindar dari kebaikan.
Aku kira aku satu-satunya orang dungu yang menjauh dari jalan yang mudah.
Semoga saja aku menjadi orang bodoh,tolol dan dungu terakhir dalam catatan perputaran bola tua yang kian usang ini. Dan semoga hanya aku orang yang begitu tinggi hati merajuk,dan menyakiti sekian banyak hati orang.

Ya, anda,dia dan mereka semua benar.
Kebahgiaan adalah sebuah kompromi dari kepentingan banyak orang.
Dan aku harus mampu menciptakan kebahagiaan itu.

Mungkin ini kali terakhir aku menangis sebagai seorang manusia. Lalu besok aku akan berubah menjadi setan dalam wujud manusia. Menjadi robot dengan cover seperti manusia.atau mungkin menjadi boneka lilin seperti yang dipamerkan di museum museum itu.

Jadi ku mohon biarkan aku menangis hari ini,sepuas puasnya, merasakan sisi manusiaku. Menelaah bagian asasi ku sendiri.dan biarkan aku. Biarkan saja aku menangis sampai mataku habis air mata. Dan tertidur kelelahan. Hanya malam ini aku janji.
Aku tidak akan lagi menangis. Aku janji.

Jadi biarkan aku sekali ini merasakan imajinasi soal konsep kebebasan yang mereka dengungkan.yang banyak pihak perjuangkan.

Sumpah, aku tidak sedang menyalahkan siapapun disini. Tidak satupun dari dia,anda ataupun mereka. Tolong jangan maknai ini sebagai kemarahan. Ini bukan. Ya seperti inilah aku. aku akan menjadi aku yang sebenar benarnya jika berada dalam deretan kata dan makna.


no tittle


Malang 24 desember 2011

Berdiri mematung memandang senja. Berdiri ribuan detik lamanya dan menunggu sinar kemerahan itu berlalu.

Aku selalu bilang, aku benci sunrise ataupun sunset. Menjadikan yang lain sebuah bayangan. Menjadikan yang lain sekedar latar belakang atas kemegahan rupanya.
Ketika semua orang sibuk berdecak kagum melihat setengah lingkaran yang seolah menyelam ke tengah samudra,

aku lebih memilih untuk menelisik sudut lain, dimana jingga  mulai berpelukan dengan malam, dimana satu dua titik bintang telah berada di sudut langit malu-malu.Aku lebih menikmati bauran abu-abu itu ketimbang semarak jingga,merah, dan segala rupanya.

Entah karena aku memang berpandangan berbeda dari mereka semua, atau karena aku terlalu gengsi mengakui bahwa jingga itu indah. Tapi yang jelas abu-abu selalu menarik bagiku. Selalu ada pertanyaan dan pernyataan yang menggelitik lewat warna abu-abu.

Menjadi berbeda dari lingkunganmu itu tidak salah. Kenapa harus selalu menjadi sama?
Kenapa harus mengekor pemikiran orang kalau kamu bisa membuat orang lain mengamini pemikiranmu?

Kita ditakdirkan dalam tubuh yang berbeda, dan tidak di jadikan dari satu cetakan yang serupa. Dia meng-create kita berbeda tidak untuk menjadikan kita semua berusaha menjadi sama,
Lalu kenapa tidak jalani saja apa yang Dia kehendaki sejak awalnya,
Menjadi dirimu. Menjadi kamu.
Kamu seutuhnya.

(HOPE)

Mr.caveman part 2!




Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: ‘mengapa ku lakukan ini?’

Keanehan lain yang menyusul yakni jawaban yang muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: ‘memang ini jalanya’. Itukah yang dinamakan firasat? Lama sudah aku tahu. Hari ini akan tiba. Tapi bagaimana pernah bisa ku jelaskan?, aku menyayangimu seperti ku sayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian itu ada. Aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri. Dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cintai.

Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanku dengan mulut terkatup. Tanpa suara, tanpa senyum. Apalagi rentetan cerita tanpa koma ala kamu.
Aku ingin bilang, aku paham. Aku tahu kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah kata pun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita.

Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini?.saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar?. Kemampuan kita berkata-kata seolah menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita dalam ribuan detik yang berlalu. Aku ingin bilang, berbarengan dengan pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.

Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Meskipun yang kita tangkap hanya bias, nanar bekas air mata yang menganak sungai. Rasanya kita sama sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin aku lupa caramu memandangku dan tak mungkin kamu lupa bagaimana semua ini berawal. Aneh.

‘kenapa gitu?,jalani dulu apa yang di depan mata kenapa?. Aku tahu kok batasku’

suara pertamamu dalam setengah jam terakhir.

Mulutku refleks terbuka,ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi yang keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabanya. Aku tidak tahu setelah ini lantas apa, apakah aku akan bahagia atau menyesal. Aku tidak mengerti mengapa dua manusia yang saling menyangi harus kembali berjalan sendiri-sendiri.

Namun kurasa hatimu tau,seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama. Itu karena kita tidak tahu bagaimana mengatasi kesendirian. Dan kamu tidak layak untuk itu. Kamu berhak menemukan satu keutuhan.

Kamu bersandar di pundak ku,lagi,memandang aku. Menghujat aku  dan semua konsep tentang perpisahan yang mendadak meluncur begitu saja dari mulutku,dalam bisumu.
Seandainya kamu mampu menelisik ke dalam. Aku menggigil, badanku meronta, inginya aku kembali melingkarkan lenganku memeluk kamu. Dan membiarkan segalanya tetap seperti ini. Inginya aku menutup mata dan memiliki kamu sampai nanti tidak lagi ada arti kata ‘kita’ lagi. Tapi itu tidak akan adil buat kamu. Akan jadi bentuk egoisku jika aku tetap berbaring memeluk kamu disini.

Karena kamu layak mendapat satu keutuhan.

Kendati bersama kamu senyaman berselimut saat hujan. Aku aman.
Aku nyaman.



mama


Tulisan ini tentang mama,

Tentang seorang perempuan yang menyimpan aku dalam rahim selama jutaan detik. Membiarkan aku merusak bentuk tubuhnya demi untuk menghadirkan aku dalam bentuk nyata di dunia. Selama jutaan detik aku berada dalam satu rimba amniotik, menghisap semua yang dimakanya, menumpang hidup secara parasit dalam tubuhnya. Dan dia membalas semuanya dengan usapan lembut.

Tulisan ini tentang mama,

Tentang seorang perempuan yang terus terjaga selama mingguan, bulanan, hanya karena aku takut terpejam dalam boks bayiku. Hanya karena aku merasa terlalu nyaman berayun di lenganya. Hanya karena aku merasa terlalu aman berada di dekapnya. Dan dia membalas semuanya dengan tersenyum.

Tulisan ini tentang mama.

Tentang seorang perempuan yang mengajari aku bicara. Terbata, dan hanya kata kata ngawur yang keluar dari mulutku. Tak pernah membuat dia berusaha mendiamkan aku. Dia tetap saja mengajak aku bicara, seolah aku mengerti semua yang di katakanya, sekalipun aku lebih sering sibuk sendiri dengan jam yang berdetak, atau dengan cicak yang mendadak lewat di dinding kamarku. Dia tetap tersenyum,dan membalas kata-kata ngawurku.

Tulisan ini tentang mama,

Tentang seorang perempuan yang selalu jadi pihak oposisi buatku ketika aku mulai beranjak dewasa. Aku kehilangan kata pada pargraf ini. Aku bingung. Bagaimana bisa aku selalu berselisih paham dengan dia yang telah memberiku hidup?, dengan dia yang mengayun aku sebelum lelap dalam mimpi?.
Bagaimana aku bisa selalu berdebat dengan dia yang telah mengajariku bicara, mengeja makna?, bagaimana bisa?

Tulisan ini tentang mama.

Tentang seorang perempuan yang telah banyak sekali menangis karena aku.
Tentang seorang perempuan yang telah banyak sekali tersakiti karena aku.

Dan ini aku,
Aku yang menangis karena membuatnya menangis. Tapi masih selalu membuatnya menangis
Aku yang sakit karena membuatnya sakit. Tapi masih selalu menyakitinya.

Dan ini aku.
Yang masih terlalu egois untuk memenuhi satu hal yang dimintanya.
Yang masih terlalu idealis untuk memenuhi satu harapanya.
Yang masih terlalu naif.Yang masih selalu memimpikan kebebasan.

 Maaf.