Sabtu, 26 November 2011

devi(L) speaking

take time for a while,take a deep breath. and feeling so free for several time.


I miss this loneliness,ha!


(ini sekedar omong kosong di akhir pekan,so don't be so seriouss)

ada satu pepatah yang bilang each day is a gift and not a GIVEN RIGHT,

(ini percakapan devi dan devil,,)

hidupmu hanya hadiah, jadi meskipun Tuhan berbaik hati,kamu tetep punya utang. Utang budi!, musti ngikutin mauNya dan ngejauhin apa yang di kata jangan ama Dia.sementara aku??(devil speaking noooow),aku minta hak untuk bisa hidup selama-lamanya dan Tuhan kasih. it's not a gift you know??, it's a kind of RIGHTS!!jadi aku gak perlu bayar apapun. itu negosiasi kami,aku gak ada utang budi dong sama Dia. kalaupun aku terus-terusan berada di sisi gelap, it's no matter kan, toh it's my job. sesuai job desk yg Dia bikin, dan Dia kasih ini.
pertanyaanya, kalau kamu yang begitu, I mean, kamu yang berpolah kayak aku, kayak setan begini. bukanya itu berati sia-sia abis Dia kasih hadiah Maha Keren buat kamu????. (hidup)
kedua nih ya, kalau pun aku jahat terus. aku gak perlu kuatir. kenapa gitu. karena aku abadi. dan segalanya udah pasti banget buat aku. sementara kamu, yang umur aja masih jadi teka-teki.
kenapa gak buru-buru bayar utang mu cobak??kasian banget gak sih Dia, udah repot-repot kasih hadiah hidup buat manusia,eh malah di sia-sia kan lo ya,,,

it kind a stupid thing, i think!

Kamis, 17 November 2011

no idea,-.-


Entah hijau,entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwarna hijau,jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis.  Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat itu yang masih buka. Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandinga spak bola dini hari dari televise 14 inci dan kumandang lagu disko era satu decade silam serta kelap-kelip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.

Tinggal empat manusia yang tersisa. Dan dia satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan mahluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan.sementara aku tetap menyandang status “kenalan”,mereka sudah menjadi tiga serangkai-sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku tidak merasa rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukan pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.

Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak tahan lagi. Cuma aku yang tidak tergaggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.

Satu diantara mereka sampai berteriak kegirangan begitu sakelar lampu di padamkan. Yang tersisa tinggalah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantic. Aku tidak suka.

Tanpa sengaja dia menoleh kearahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Akupun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi disekatkan ke meja mereka. Dan dia mempersilahkan aku duduk. Dia, yang paling aku cari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.

Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk di situ,akan ku selundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikiranya,memata matai perasaanya. Cukup seperempat jiwaku yang berjaga di meja itu untuk tersenyum sopan,tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘ooooh’ atas percakapan apapun.

“kami sedang melakuka satu permainan”, dia menjelaskan. “bertukar pengalaman yang paling sedih”. Temanya menambahkan,”yang terpilih jadi juara akan mendapatkan ,,,ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh di geser ke pusat meja.

Cepat ku jelaskan bahwa ka tidak minum bir, sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapapun untuk melakukan apapun. Tidak boleh tidak. Ide itu disambut baik. Bkan ide bir sebagai hadia utama dilengserkan.

Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman,dan kisah bencana alam. Tiba giliranya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau,lalu cahaya besar. Namun pada saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring kma tetntu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahya entah apa, yang Cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern,menjadi manusia yang mengatasi cinta insane dan berjuang untuk menghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu. Tanpa menunggu harus koma atau ko’it.

Ketiga temanya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.

“giliran kamu” suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh kearahku,matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.

Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, kau teringat trotoar tempat kamu berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan. Aku teringat sluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini. Kau teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu denganya. Aku teringat kemana harus kembali setelah malam ini dan kemana ia pergi nanti.

Aku mulai berkisah, tentang sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibuya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang ibunya mampu beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu ada paha,dada atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.
Mereka semua senyap. Lurus memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebnayak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku menghela napas. Kisah ini terasa semakin membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang Cuma sanggup kuhayati bayanganya dan tak akan pernah kumiliki keutuhanya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit,awan dan hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain, ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki, saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidaklagi jadi piala dan mendadak terlihat sangat menarik.

Mereka semua berpadangan. Mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alcohol, bir ini menjadi lebih dashyat dari semua kisah sedih tadi.

Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku.kisahku dinobatkan menjadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang ku mau. Siapa dan melakukan apa.mereka begitu semangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkirim surat elektronik. Namun bukan itu saj ayang kucari. Aku hanya ingin kembali ketempatku. Di belakang sana.menikmati apa yang aku sanggup. Bukan di meja ini, buka di sebelahnya. Bukan bersentuhan dengan kakinya.

Malam itu sebagai hadiah kisah sedihku tenta cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang. Aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar menyalakan sakelar lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisis pergi ke tempat duduk ku semula. Supaya sekembalinya ia nanti,aku sudah kembali menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara.

Tempat ini kembali menjadi remang yang tidak romantic. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara,langit,sinar bulan atau gelembung bir.
Matanya cokelat muda.
Itu sudah lebih dari cukup.

Malang,2 november 2011.

Rabu, 16 November 2011

galau (ers)

aku biasa duduk berjam-jam di depan layar 14'' ini dan menumpahan semua apa yang kurasakan.
dan hari ini, aku cuma mampu duduk mematung berjam-jam. karena semua kata-kata yang biasanya meluncur manis itu mendadak terdistorsi aliran memori lain. tentang kamu.
ah, aku menepis beberapa bulir air yang hendak meluncur dari pelupuk mataku. aku bosan berkutat dengan kamu dan kamu lagi setiap harinya. tidak bisakah kita selesaikan saja semua rasa yang terlanjur menjalar.
ha!
retoris.aku memijat tengkuk ku sendiri gemas.
bagaimana mungkin aku yang akan mengakhiri ini semua?, sementara aku lah yang paling ingin berada disini, satu menit,dua menit, lima menit lebih lama,sehari,sebulan,setahun lebih lama.
bukan kamu yang menahan langkahku, tapi keberadaanmu dalam alam bawah sadarku yang menggerakan hati ini untuk tidak bergerak sama sekali. aku sedang merajuk pada nurani, pada hati kecilku sendiri. memohon sebuah pengampunan, karena aku tak kuasa untuk berada di sini lebih lama. aku lelah,
kehabisan nafas, terengah mengejar langkahmu.ingin kamu,tapi hanya mampu menangkap bayanganmu.
kamu.
kamu.
kamu.
aku kehabisan kata untuk melukiskan kamu,
bagaiamana kamu,kehadiranmu, dan ketidak pedulianmu,menjungkir balikan dunia.
aku dan duniaku.

aku bukan supergirl yang mampu memfilter segala rasa sakit, menelanya sebagai sebuah anugrah,bentuk ujian, seperti apa yang tertulis di al Qur'an,al kitab atau apapun itu. aku bukan.
aku masih akan mengerang kesakitan ketika perhatian itu di cabut begitu saja dari aku, aku akan meronta kehilangan ketika kehangatan itu di rengkuh begitu saja dari aku. aku akan menangis, mengais-ais mencari kenyamanan yang di minta kembali tanpa pemberitahuan dari aku.

aku cuma seorang perempuan biasa. yang merindukan kamu setiap kali akan menutup mata.
aku cuma perempuan biasa yang akan menyebut namamu layaknya mantra,ketika menunggu sepenggal kabar dari kamu.
aku cuma perempuan biasa.
dan aku butuh kamu.

Jumat, 04 November 2011

untittled

lagu yang satu ini,.
hhh,sudah ganti masa,ganti periode,
lelaki yang singgah,mampir,sudah bolak balik mengalami reshufel. tapi lagu ini masih selalu mengena sekali.
entah karena sebagian dari aku,adalah pribadi yang menye-menye.atau kah mungkin ini apa yang terkandung dalam lagu ini adalah sebuah pertanyaan retorikal yang secara ajaib akan muncul dalam setiap hati manusia ketika mereka menjalani pasang surut suatu hubungan?.

"adakah ku singgah di hatimu?".
 ini adalah satu dari sekian banyak pertanyaan tentang asmara, yang sama sekali tidak berjodoh dengan jawaban.

aku sama sekali bodoh soal cinta. masih sama bodohnya seperti ketika pertama kali aku mengenal cinta.