Di sini sebuah dialog antar hati terjadi,
“Kamu itu mulai suka sama dia, kamu tahu itu. Kamu mulai terbiasa sama kehadiran dia.Dia jadi sebuah rutinitas buat kamu. Kamu tahu itu salah tapi kamu terus jalan maju, apa mau mu?”
Sepihak hati mulai menghakimi.
“Ngawur, bilang apa kamu itu? Aku gak mungkin suka sama dia, dia terlalu berharga untuk sekedar jadi seorang pacar. Dia terlalu berharga. Langka, jarang aku ketemu orang yang sejalan dengan pemikiran-pemikiran gilaku. Bahkan nyaris gak pernah, dan dia terlalu berharga untuk sekedar disayangi sebatas pacar. Aku gak akan rela. Gak akan pernah rela.”
Hatiku yang lain mulai membentuk pembelaan diri.
“Munafik! Aku ini hatimu, aku tahu apa yang kamu rasakan. Perasaan ini, perasaan ini apa namanya itu kalau bukan sayang? Kamu ketagihan sama smsnya, ketagihan telponnya. Apa itu namanya kalau bukan sayang? Kamu itu gak jelas, ambigu! Tempatkan dia sesuai porsinya! Kamu mau kasih dia tempat macam apa di dalamku?
Hatiku yang sisi ini memang tak pernah bersahabat.
“Aku gak munafik, dan jangan pernah bilang kayak gitu lagi! Kamu tahu dengan jelas aku sayang dia, sayang sebagai apa. Sayang yang seperti apa. Kamu tahu itu dengan jelas. Seharusnya kamu juga ingat, dia punya orang lain yang butuh dia disana. Buat dia jaga, dan kamu harus inget dia sayang sama orang itu. Dan aku, aku nempatin dia jauh di atas kata pacar. Jauh lebih penting ketimbang pacar. Jadi jangan pojokkan aku dengan pemikiran-pemikiran bodoh macam itu.”
Akhirnya, meledak juga perasaan itu.
“Lalu aku harus bilang apa? Apa namanya itu? Kamu itu ambigu. Kalau emang gak suka kenapa sok perhatian gitu?”
Dan sisi lain diriku masih belum puas mencerca, mencari-cari keterangan tentang ini semua.
“Aku gak sok perhatian, itu murni karena saya peduli. Bukan sok cari muka atau apa. Ini memang wujud kepedulianku. Jangan selalu di salah artikan setiap perhatianku itu sebuah rasa suka. Ini lebih dari sekedar suka, ini sayang. Tapi kamu harus inget! Ini bukan sayang yang seperti itu. Bukan sayang yang ingin dia ada terus, bukan ingin jadi pacar atau apa. Ini murni sayang yang tulus. Gak bersyrat. Ini sayang sebagai seorang apa ya? Teman yang benar-benar saya harapkan. Ngerti gak si? Cukup lama aku harus mendem-mendem apa yang nge-grundel disini, terus aku ketemu orang yang bisa dengan gampang menerima semua pemikiran saya. Dan bahkan meng- amini semua itu. Lebih dari sebuah kata teman, di atas kata pacar. Entah apalah itu”
Sebuah penjelasan yang di harapkan akhirnya meluncur begitu saja.
“Terus harus aku sebut perasaan mu ini apa”
Masih belum puas mencerca penjelasan.
“Jangan sebut apapun. Biarin aja! Gak usah di kotak-kotakkan aku sudah terlalu enjoy dengan ini semua.”
Aku putuskan untuk menggantung akhir dari monolog ini.
“Kita lihat, sampai kapan kamu mau bertahan dengan sisi hati yang itu.”
Sisi hati ku yang ini akhirnya melancarkan sebuah tantangan.
“Silahkan”
Sementara hatiku di bagian yang lain, menerima dengan senyum puas.
Dan monolog hatiku tak pernah bertemu sebuah titik temu. Mereka selalu sampai pada persimpangan. Sementara aku cuma bisa menahan semua. Jadi saksi bisu sekaligus sie sarana prasarana, menyediakan tempat mereka untuk berdebat.
Lalu semua pertentangan itu merangsak masuk ke dalam alam bawah sadarku, meminta dengan sangat untuk dilupakan. Sayangnya, siklus hati justru mementahkan semuanya dengan memutarkan sebuah film pendek yang berkelebat begitu saja di otakku ketika aku terpejam. Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Menahan semua gelombang amarah yang siap meledak dan menerjang apapun di sekitarnya jika nanti bisa menampakan wujudnya. Ini amarah sudah membabi buta, mendobrak pintu hati, merusak ruang ruang sempit di dalamnya. Hati ini sudah cukup sempit dan sekarang kian berantakan.
ARGH!! Harus apa lagi?
Dan di sinilah fase Rizal bagus bekerja. Mulai mencoba menyelesaikan semua kemelut itu.
Seruas demi seruas pemikiran mulai disederhanakan. Sedikit demi sedikit benang kusut direntangkan. Entah kapan semua akan jadi benar benar mudah untuk dijalani, yang jelas ini sudah pada tahapan benar, menurut saya.
Fase rizal bagus, apa sih fase rizal bagus itu? Rizal bagus adalah sebuah tahapan. Suatu proses pendewasaan diri. Sebuah proses dimana terjadi penyederhanaan pemikiran tentang yang salah dan benar. Rizal bagus adalah suatu pola pandang khas anak manusia yang membedakan suatu masalah hanya dengan “iya” dan “tidak”. Rizal bagus adalah sebuah pola pemikiran ekstrem, di atas normal tentang hakikat kehidupan, dan Rizal bagus adalah suatu proses klasifikasi yang merumuskan masalah, murni, berdasar logika dan hati. Yang walaupun tersakiti, masih mampu dengan enteng berkata, ”Peduli apa kamu, toh saya yang sayang”. Itulah rizal bagus.
Katakanlah, Rizal Bagus sebagai suatu titik balik dalam kehidupan saya. Ya, itu memang benar. Sebuah gambaran nyata, sebuah realisasi dari pemikiran pemikiran saya, yang tersimpan rapat jauh di alam bawah sadar saya.
Sengaja memang saya simpan semua ide dan gagasan gila itu di sana, karena selama ini lingkungan saya menganggap semua itu terlalu gila. FREAK. Aneh.
Tapi semua pemikiran itu mendadak memaksa keluar, ketika sebuah stimulus lembut menyentuh ujung pikir saya, ketika seorang Rizal bagus datang.
Monolog hari itu “berakhir” dengan sebuah tanda tanya dan senyuman di bibir ku.^^
(“berakhir”, karena kenyataanya semua masih belum benar benar selesai.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar