Sabtu, 27 Juni 2009

Sebuah Epilog kosong

Malang,28 juni 2009

Tentang haru biru dan segala yang kelabu sudah berlalu di hari yang lalu.Hari ini semua berganti jadi warna mati yang mengubah terang mimpi jadi sebuah deskripsi kosong tentang suatu arti.Map biru itu sudah di tangan satu persatu angka terpampang jelas dengan simbol simbol menarik di sekitarnya mengeluarkan aura yang tak terbaca.Raut wajah tua yang membaca perlahan berubah jadi sebuah kerutan tanda tanya lalu bertransformasi jadi lukisan acak yang abstrak.Aku segera tahu lonceng kiamat telah berdentang.
ku putuskan lari sejenak dari rutinitas rasa bersalah yang makin mengguncang,aku cari jalan aman dengan menulis semua dalam harian atau sekedar pesan.Satu persatu kawan ku hubungi,mencari sebuah pelarian di saat genting.
Ternyata aku memang masih dalam keadaan genting karena tingkah laku yang sok penting dari anak yang sumpah,nihil dalam segala bidang.Dan di sinilah aku saat ini.
Sibuk menulis kan semua yang berlarian di dalam imajiku,tentang rasa yang sudah raib dari nyatanya,sebuah gambaran mimpi yang hancur,sebuah film yang tak berakhir dan sebuah kata yang tak pernah selesai di ucapkan.
Kalau kemarin aku sibuk dengan sebuah rasa bersalah sekarang aku sibuk membenahi sistem pertahanan diri yang sukses di jebol dari dalam.Ada sebuah sistem yang mematikan sistem dari dalam dan mengatur suatu program peledakan diri sendiri.Aku mati.Karena kebodohanku sendiri.Aku mengakhiri mimpi karena suatu tindakan yang tak pasati di hari lalu.Ya aku bunuh diri.
Terlalu banyak emosi yang aku tunjukan kemarin,sampai sampai hari ini semuanya telah kering.Tak ada emosi lagi di dalam sini .Cuma seonggok daging yang di aliri darah,sudah tak lagi berasa.Tahu kenapa aku suka sekli menulis?
karena dengan begini,aku tak butuh suara untuk menentang,tak butuh daya untuk melawan,cukup denagn kumpulan kata.Dengan rangkaian kata dalam secarik kertas putih,aku bisa menentang dengan lantang.Aku bisa menangis sampai histeris.Singkatnya satu satunya media yang membuatku bisa bebas berekspresi hanyalah kata.
Ini adalah sebuah epilog kosong untuk mengakhiri semua cerita lalu.Aku harap epilog ini benar benar mengakhiri episode hidupku kali ini.Jadi besok aku bisa menata skenario baru yang lebih menarik untuk di simak untuk hidupku.Semoga dengan epilog ini semua kata yang tercekat bisa terdengar lagi.
Terlihat begitu bayak kata yang sudah terangkai di sni,tapi kenyataanya ini hanya epilog kosong.Bukan kosong dalam makna sesungguhnya.Ini adalah epilog kosong karena tak memiliki arti.Di tulis begitu saja,mengalir begitu saja,mengalun dengan apa adanya untuk mengakhiri episode hidup kali ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar