Jumat, 26 Juni 2009

I Love my senior

Malang ,26 juni 2009

Ada sebuah cerita hari ini.Di mulai dari sebuah kekaguman lalu berubah jadi keinginan.Di awali sebuah kata takjub lalu berlanjut dengan sebuah genderang perang. Aku mulai memperhatikan dia,lalu aku mulai merasa sapuan hangat dan rona merah saat dia menyapaku.Aku mulai melihat gerik langkahnya, lalu aku mengikuti semua gayanya. Tanpa sadar aku berubah jadi dia. Semakin hari semakin meradang, seolah menjadi sebuah rutinitas ketika melihatnya berjalan atau sekedar berpapasan. Aku selalu menunggu dia di depan bangku panjang kelas. Di depan pintu. Menunggu senyum paginya yang menggoda. Aku berdiri di pintu tak peduli sudah berapa lama aku di situ. Sampai aku menemui sosok itu, aku akan tetap mematung di situ.
Sudah setahun semua berjalan seperti itu.Sudah setahun juga kekagumanku terpendam. Dan sudah setahun perasaanku selalu berevolusi. Dari kagum jadi suka, dari suka jadi duplikat, dari duplikat sampai menjelma. Semua itu sudah setahun. Hari itu, aku masih penuh harap, menanti di ambang pintu. Mencoba mencari sosoknya yang seharusnya sudah lewat. Masih menunggu bahkan ketika speaker kelasku berteriak, menandakan jam pelajaran harus di mulai. Aku masih di ambang pintu. Dia tak datang. Mood yang sudah ku susun rapi tadi pagi, luluh lantah begitu saja. Dan aku sadar in bukan lagi rasa kagum ini sudah jadi cinta. Ini bukan lagi rasa yang patut dipertahankan.ini salah .Aku tersudut di sudut ruang, mendengar penjelasan yang sama sekali kabur di otak ku.Di dalam benak ku hanya terngiang namanya. Sebuah keraguan dan kegundahan mulai membayangi harapanku.
Mulai hari itu, aku coba mencari tahu tentang dia. Aku mulai bertindak sedikit gila. Layaknya polisi yang mengejar buronan, siang malam aku cari tahu tentang dia. Sampai akhirnya sebuah fakta kecil tapi mengusik seperti kerikil terhampar di depan mata. Seorang gadis dari angkatanya telah menjadi ratu hatinya. Sebuah senyum kelu ku tampakan. Entah merasa kalah atau pasrah atau mungkin kecewa yang tersirat.Yang aku tahu perasaanku kala itu amburadul.Ada sebuah perasaan konyol,yang seolah berkata"nah sudah ku bilang". tapi ada juga perasaan yang berkata ini bukan akhir. Aku menangis hari itu.Bukan menangisi dia, tapi menangisi kata hatiku yang tak lagi sejalan dengan otak ku.Apa yang harus aku lakukan?? rasa ini terlanjur jauh.
Di kamar mandi putri aku menangis seharian,teman temanku silih berganti membolos pelajaran untuk menemani histeria remaja patah hati ini.Sementara aku,aku bolos sejak jam ke3 sampai sekarang ketika jam pulang akan berdentang.Aku bingung,harus di apakan perasaan ini.harus di apakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar