Jumat, 26 Juni 2009

identitas "dia"

Ada yang terlewat dari kisah itu,aku belum menceritakan siapa dia dalam tulisan itu.Dan siapa aku,pastinya.Entah apa harus aku ceritakan atau tidak.Tapi rasanya akan lebih mudah untuk aku jika perasaan ini,beban ini sedikit terurai dari benakku.Semoga dia tidak pernah sadar perasaan ini.
Namanya dwiki,seorang kakak kelas yang benar benar sempurna.Bukan hanya pintar,tapi juga baik.Seorang pemain basket yang piawai memetik gitar.Singkat kata dia sempurna.rasanya bukan cuma aku yang akan luluh melihat polah tingkahnya.Tapi kebetulan,hanya aku yang sempat sedikt gila karena "obsesi"bodoh itu.Sampai hari ini,sampai dia lulus dan melanjutkan study nya ke kota lain,aku masih belum berani mengatakan apapun tentang si jantung hati yang merekah karena dia,jangankan untuk mengungkapkan itu semua,bertegur sapa saja hampir menguras seluruh tenaga ku.
Lebai,begitu teman temanku menggambarkan perasaan ini.Kata mereka,"gak segitunya kaleee".Hahaha..tapi mereka tak pernah tahu bagaimana perasaan itu membunuh aku dari dalam.Perlahan lahan.Dia sudah ada yang memiliki,belum pada taraf sebagi istri.Baru seorang kekasih hati,tapi sudah 3 tahun di jalani,lalu apa artinya perasaan ini jika di bandingkan dengan waktu yang sidah mereka lalui??.Itu yang selalu jadi pertanyaanku.Apa artinya rasaku??
Jika di bandingkan dengan pendampinya itu,aku hanya angka nol besar.Aku bukan apa apa.Sekalipun semua temanku berkata,aku jauh lebih baik dari gadis itu.Tapi aku tahu itu hanya kata kata manis untuk mencegah nanah hatiku makin merangsak keluar.Gadis itu punya segalanya,terlebih dia punya si perfect yang selalu setia menemani.Kadang aku bertanya dalam pikir.Kenapa sulit sekali mencari sebuah kebahagiaan??.tapi yang ku temui hanya pertanyaan baru yang membuatku makin tak menentu.
Yang aku cari adalah kebahagiaan.Tapi bahagia yang seperti apa?.Kebahagiaan adalah kumpulan kata kata indah yang di rumuskan dalam angka angka imajiner yang irasional.Pada hakikatnya kriteria kebahagiaan akan terus meningkat seiring dengan waktu.Lalu kapan aku akan merasakan bahagia jika bahagia itu sendiri sebenarnya hanya sebuah kata.Lalu kapan aku menjadi bagia dari kebahagiaan itu,jika sebenarnya bahagia itu tak pernah nyata?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar