Minggu, 28 Juni 2009

Kebodohan setelah penentuan

Malang,29 juni 2009

Beberapa pengalaman bodoh sempat terjadi pasca pembagian map biru penentuan.Benar benar terasa sedikit konyol karena terjadi begitu saja tanpa sedikit pun rasa penyesalan.Parahnya ini semua terjadi di tempat tempat yang notabene ramai.Sayangnya,tak sedikitpun urat malu melakukan kinerjanya dengan baik dan wal hasil,aku melenggang seolah semua baik baik saja.
Di awali dengan suatu siang yang cukup mendung dengan awan hitam yang membayangi selalu.Kekecewaan yang sebelumnya menjadi momok yang mengerikan ternyata terbukti benar.Beberapa kalimat sindiran terlontar cepat dan capcus menusuk tepat di ulu hatiku.Setetes dua tetes memang sempat mengalir sebelum aliranya benar benar meluber dan keluar bak air bah yang di turunkan di jaman Nuh kala itu.Dan rupa rupanya,hal itu tak urung menimbulkan sensasi iba serta setitik rasa bersalah bagi mereka yang berwajah abstrak karena kecewa sebelumnya.Jadilah kami semua bermalam minggu ria di salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota.
Keheningan tak bisa terhindarkan,kebisuan sempat mengisi ruang ruang kosong di antara kami semua.Perlahan meleleh,ketika satu sama lain sadar bukan ini akhir dari segalanya.Mobil yang kami tumpangi melaju mulus di jalanan sesak khas mlam minggu.Canda tawa riang gembira di luar jendela sempat membuatku iri,karena biasanya rona itulah yang menghiasi wajahku.Tapi,sudahlah.
Parkiran di depan mata,cukup ramai tapi masih ada tempat untuk kami berdiam sesaat.Setelah merasa mobil kami aman dari jarahan tangan yang tak bertanggung jawab,keluarlah kami dari mobil,dengan selakasa senyum yang tertahan.Perlahan tapi pasti semua berjalan seperti sedia kala,gelak tawa tercipta setelah sekian lama.Berbelanjalah kami dengan sebuah kereta besi yang di sebut troli,satu persatu keperluan di masukan sampai penuh sesak.Di sinilah kebodohan mulai terjadi.
aku yang sedang menanti di depan etalase sebuah toko buku,sedikit bergaya untuk menghilangkan rasa bosan karena harus menunggu sendiri,melihat kanan kiri lalu mengamati benda dalam bingkai kaca menjadi pilihan yang cukup baik.Ya,cukup baik.Sebenarnya bisa jadi pilihan yang sangat baik jika aku tidak melakukan kebodohan seperti kepentok kaca etalase.Lalu dengan entengnya mengelus sendiri kepalaku sambil mengaduh dalam hati.Beberapa orang sempat melihat ke arahku karena efek kepentok yang menimbulkan dentuma cukup keras itu,seorang penjaga nya malah sempat tertawa dan memandang aneh ke arahku.Sayangnya urat maluku tertimbun ribuan rasa bersalah,yang menjadikan efek yang seharusnya timbu justru surut begitu saja.Belum selesai kebodohanku,kini gantian adikku yang membuat heboh seisi hall,di jatuhkannya grendel pintu yang langsung menimbulkan suara seperti ledakan,kontan beberapa pengunjung langsung reflek berkata macam macam.Jangankan mereka,aku saja hampir jantungan di buatnya.Sayangnya,hal yang sama juga terjadi pada adik ku,tanpa rasa malu atauganjil sedikitpun dia melangkah pergi dan berlenggang kangkun seolah ukan dia pelakunya.Wal hasil aku yang kelabakan,kerena akhirnya semua mata tertuju padaku dan seolah memvonis hukuman mati padaku.ya apa daya..aku pasrah saja menerima.Toh mereka juga bukan kerabat dekat.Dan tak mungkin akan ingat aku juka bertemu lagi nanti di kesempatan lain.Yah itulah selintas kebodohan yang terjadi pasca pembagian map biru penentuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar