Selasa, 03 Januari 2012

Mr.caveman part 2!




Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: ‘mengapa ku lakukan ini?’

Keanehan lain yang menyusul yakni jawaban yang muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: ‘memang ini jalanya’. Itukah yang dinamakan firasat? Lama sudah aku tahu. Hari ini akan tiba. Tapi bagaimana pernah bisa ku jelaskan?, aku menyayangimu seperti ku sayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian itu ada. Aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri. Dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cintai.

Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanku dengan mulut terkatup. Tanpa suara, tanpa senyum. Apalagi rentetan cerita tanpa koma ala kamu.
Aku ingin bilang, aku paham. Aku tahu kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah kata pun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita.

Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini?.saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar?. Kemampuan kita berkata-kata seolah menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita dalam ribuan detik yang berlalu. Aku ingin bilang, berbarengan dengan pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.

Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Meskipun yang kita tangkap hanya bias, nanar bekas air mata yang menganak sungai. Rasanya kita sama sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin aku lupa caramu memandangku dan tak mungkin kamu lupa bagaimana semua ini berawal. Aneh.

‘kenapa gitu?,jalani dulu apa yang di depan mata kenapa?. Aku tahu kok batasku’

suara pertamamu dalam setengah jam terakhir.

Mulutku refleks terbuka,ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi yang keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabanya. Aku tidak tahu setelah ini lantas apa, apakah aku akan bahagia atau menyesal. Aku tidak mengerti mengapa dua manusia yang saling menyangi harus kembali berjalan sendiri-sendiri.

Namun kurasa hatimu tau,seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama. Itu karena kita tidak tahu bagaimana mengatasi kesendirian. Dan kamu tidak layak untuk itu. Kamu berhak menemukan satu keutuhan.

Kamu bersandar di pundak ku,lagi,memandang aku. Menghujat aku  dan semua konsep tentang perpisahan yang mendadak meluncur begitu saja dari mulutku,dalam bisumu.
Seandainya kamu mampu menelisik ke dalam. Aku menggigil, badanku meronta, inginya aku kembali melingkarkan lenganku memeluk kamu. Dan membiarkan segalanya tetap seperti ini. Inginya aku menutup mata dan memiliki kamu sampai nanti tidak lagi ada arti kata ‘kita’ lagi. Tapi itu tidak akan adil buat kamu. Akan jadi bentuk egoisku jika aku tetap berbaring memeluk kamu disini.

Karena kamu layak mendapat satu keutuhan.

Kendati bersama kamu senyaman berselimut saat hujan. Aku aman.
Aku nyaman.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar