Tulisan
ini tentang mama,
Tentang
seorang perempuan yang menyimpan aku dalam rahim selama jutaan detik.
Membiarkan aku merusak bentuk tubuhnya demi untuk menghadirkan aku dalam bentuk
nyata di dunia. Selama jutaan detik aku berada dalam satu rimba amniotik,
menghisap semua yang dimakanya, menumpang hidup secara parasit dalam tubuhnya.
Dan dia membalas semuanya dengan usapan lembut.
Tulisan
ini tentang mama,
Tentang
seorang perempuan yang terus terjaga selama mingguan, bulanan, hanya karena aku
takut terpejam dalam boks bayiku. Hanya karena aku merasa terlalu nyaman
berayun di lenganya. Hanya karena aku merasa terlalu aman berada di dekapnya.
Dan dia membalas semuanya dengan tersenyum.
Tulisan
ini tentang mama.
Tentang
seorang perempuan yang mengajari aku bicara. Terbata, dan hanya kata kata
ngawur yang keluar dari mulutku. Tak pernah membuat dia berusaha mendiamkan
aku. Dia tetap saja mengajak aku bicara, seolah aku mengerti semua yang di
katakanya, sekalipun aku lebih sering sibuk sendiri dengan jam yang berdetak,
atau dengan cicak yang mendadak lewat di dinding kamarku. Dia tetap
tersenyum,dan membalas kata-kata ngawurku.
Tulisan
ini tentang mama,
Tentang
seorang perempuan yang selalu jadi pihak oposisi buatku ketika aku mulai
beranjak dewasa. Aku kehilangan kata pada pargraf ini. Aku bingung. Bagaimana
bisa aku selalu berselisih paham dengan dia yang telah memberiku hidup?, dengan
dia yang mengayun aku sebelum lelap dalam mimpi?.
Bagaimana
aku bisa selalu berdebat dengan dia yang telah mengajariku bicara, mengeja
makna?, bagaimana bisa?
Tulisan
ini tentang mama.
Tentang
seorang perempuan yang telah banyak sekali menangis karena aku.
Tentang
seorang perempuan yang telah banyak sekali tersakiti karena aku.
Dan
ini aku,
Aku
yang menangis karena membuatnya menangis. Tapi masih selalu membuatnya menangis
Aku
yang sakit karena membuatnya sakit. Tapi masih selalu menyakitinya.
Dan
ini aku.
Yang
masih terlalu egois untuk memenuhi satu hal yang dimintanya.
Yang
masih terlalu idealis untuk memenuhi satu harapanya.
Yang
masih terlalu naif.Yang masih selalu memimpikan kebebasan.
Maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar